Pustakaku

Jalani, Tapi Jangan Sendiri

Copyright Anik Nur Azizah. Powered by Blogger.
  • Beranda
  • Cerita
  • Wisata
  • Warung Kopi
  • Librarian Corner
  • Bucin Time
Photo by Pustakasiana Zulqudsie
      
          Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga kembali dipadati mahasiswa dan beberapa  tamu undangan dalam acara Muslim’s Show goes to Indonesia. Setelah acara akademisi baca puisi yang diselenggarakan oleh MMPI yang didukung Teater Eska UIN Sunan Kalijaga dan jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga menarik audience dari civitas UIN maupun kampus luar UIN pada Senin 03 Maret lalu, pagi tadi, Rabu 12 Maret 2014 Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga kembali dipadati mahasiswa maupun tamu undangan dari UIN Sunan Kalijaga juga dari luar UIN Sunan Kalijaga. Mizan bekerjasama dengan jurusan Ilmu Perpustakaan S1 UIN Sunan Kalijaga menyelenggaarakan Public Lecture bersama dengan 3 (tiga) komikus muslim yang berasal dari Perancis. Ketiga komikus tersebut ialah Noredine Allam, Greg Blondin dan Karim Allam. Selain ke Yogyakarta, dalam kunjungannya di Indonesia tanggal 6 sampai 16 Maret ini, tiga komikus asal Perancis ini juga berkunjung ke Jakarta dan Bandung. Dalam kunjungannya ini, mereka mengenalkan komik buatan mereka yang berjudul the Muslim’s Shows yang garis besarnya berisi kehidupan umat muslim di Perancis.

          Kegiatan yang berlangsung di Teatrikal Perpustakaan UIN Suka ini dimulai pukul 08.00 WIB dibuka dengan penampilan dari band Papyrus dan grup musik Al-Jami’ah yang memukau pengunjung dengan musik gambusnya yang berirama dan syair ala timur tengah. Tak lama berselang, ketiga komikus berhidung mancung memasuki Teatrikal Perpustakaan dan disambut oleh seluruh audience yang berdiri menyambut kedatangan tamu istimewa ini. Bapak Ahmad Fatah selaku PD III Fakultas Adab dan Ilmu Budaya tak kalah menyambut tamu berkulit putih dengan mengenakan blangkon yang sudah dipersiapkan oleh panitia pada setiap komikus. Acara dibuka dengan doa yang dipimpin oleh mahasiswa Ilmu Perpstakaan semester 4 , Marsono, yang kemudian dilanjutkan dengan acara sambutan oleh Benny Ramdhani selaku Project Officer Muslim Show to Yogyakarta. Public Lecture Muslim ‘s Show ini di buka secara resmi oleh bapak Ahmad Fatah pada pukul 09.00 WIB dengan meniup peluit bambu yang sebelumnya dibagikan oleh panitia kepada seluruh hadirin secara bersamaan.

          Dialih bahasakan oleh bapak Ali – dosen Bahasa Perancis Vokasi Universitas Gadjah Mada, audience terdiam bengong mendengarkan penjelasan Noredine Allam dengan gaya bahasa Perancis yang cepat dan tidak dimengerti sebagian bahkan hampir seluruh hadirin. Noredine dengan gugup mencoba menjelaskan tentang the Muslim’s Show, yang menceritakan kehidupan umat muslim di Perancis. Noredine menuturkan bahwa pembuatan Moslem’s Show ini dimulai sejak tahun 2009. Awalnya, hanya potongan page-page kartun di Facebook saja, dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, akhirnya The Muslim’s Show ini dibukukan dan dialih bahasakan dalam berbagai bahasa. Selain dibukukan, The Muslim’s Show ini juga di filmkan. Ide pembuatan kartun ini sebenarnya hanya dari ide dan pelajaran sederhana tentang permasalahan yang dapat kita temui dalam kehidupan sehari-harinya. Seperti pesan dalam salah satu halaman komiknya bertuliskan “ If they fight me, I respond wisely”.  Dalam pesan komik tersebut ide dari Noredine yang digambar oleh Greg Blondin yang kemudian diwarnai oleh Karim Allam, menggambarkan bahwa ada orang yang tidak suka dengan kita, menantang, mengungkapkan kebenciannya terhadap muslim, tapi si Muslim tersebut malah menawarkan madu, agar tenggorokan si orang tidak suka tadi tidak sakit karena sudah digunakan untuk berteriak-teriak.

          Selain penjelasan dari Noredine, public lecture yang di moderatori oleh Bapak Ainul Yaqin ini juga membuka kesempatan kepada audience untuk menanyakan unek-unek mereka kepada komikus yang duduk di podium. Sembilan penanya menanyakan pandangan mereka tentang kehidupan muslim di Perancis dan beberapa pertanyaan menarik lainnya. Di akhir acara, Greg mencoba mepratekkan bagaimana dia menggambar kartun tokoh komik di hadapan para audience. Ketiga komikus ini juga membuka kesempatan kepada audience yang memiliki buku “the Muslim’s Show”  untuk mengabadikan karikatur mereka dan ditandatangi oleh ketiga Komikus berbadan tinggi ini. Public lecture ini berjalan cukup baik, hanya saja pembicara merasa agak gerah karena kondisi ruangan yang overload oleh audience yang penarasan dengan ketiga komikus ini. Ibu Sri Rohyanti selaku Ketua Program Studi Ilmu Perpustakaan S1 UIN Sunan Kaljaga memberikan komentarnya ketika beberapa mahasiswa bertanya kesan acara ini. Beliau berkata bahwa, acara ini sangat bagus sekali, selain untuk public lecture bahwa komik juga bisa dijadikan bahan pustaka yang berfungsi rekreasi, acara ini memberikan ruang kreativitas mahasiswa Ilmu Perpustakaan sebagai Event Organizer acara ini. Selain itu, beliau juga memaparkan, mengapa acara ini di langsungkan di tatrikal perpustakaan, salah satu alasannya untuk menarik pengunjung agar perpustakaan lebih eksis lagi.




 Menurut pendapat beberapa orang, sebagian besar dari mereka menjawab, pustakawan itu ya  orang yang bekerja di Perpustakaan.
Salah seorang dari mereka ketika Saya tanya : “Setahu kamu, bekerja di perpustakaan itu ngapain aja?” nah, Dia jawab : “Ya nata buku to ya? Mau ngapain lagi kalo gag nata buku?”
Ya, begitu hasil survey kecil saya. Mungkin memang belum banyak orang tahu. Sebagaian besar melihat pustakawan dari apa hasil konkrit yang di kerjakan oleh pustakawan. Dan hasil konkrit yang terlihat oleh para pemustaka ya rak, yang ada buku tertata di dalamnya.
Pertanyaan yang ada benak saya sendiri, bertanya pada diri saya sendiri: “Gimana buku bisa sampai ke rak? Gag mungkin kan, pustakawan tiba-tiba beli buku, disampul, ditaruh rak, selesai. Apa yang terjadi jika pustakawan tersebut menaruh bukunya asal-asalan, perpustakaan bisa kaya pasar kiloan, buku segala subjek campur bawur. Kalian mesti bingung nyari buku yang kalian cari.” Tapi pertanyaan ini saya simpan dibenak saya sendiri, dan saya tuliskan disini.
Ok, menjawab pertanyaan Ibu Labibah pada Mata Kuliah Informasi dalam Konteks Sosial : “Pustakawan itu apa?”
Kalau menurut pendapat saya sendiri, pustakawan itu . . . . profesi multi subjek ilmu.
Karena pengelolaan koleksi, dari mau mengadakan sampai buku itu nanti sudah tidak diperpustakaan lagi mempunyai alur yang panjang. Perlu belajar manajemen untuk merencanakan koleksi yang akan di adakan, Kepada jobber mana buku mau dibeli, ngecek buku/ koleksi sesuai apa tidak. Kalau buku sudah sampai diperpustakaan, subjek bukunya apa? Masuk klasifikasi nomor berapa? Bikin katalog dulu. Kalau perpustakaannya sudah sebagain terotomasi ya bikin barcode dulu, habis itu, buku masih disampul. Nanti kalau penempatan buku di rak, buku nomor sekian itu masuk rak sebelah mana. Belum lagi di perpustakaan yang terotomasi tadi, pustakawannya juga harus bisa TI, mengelola si program-program otomasi.
Sebenarnya tugas pustakawan itu juga gag cuman ngurusin buku. Nanti pustakawan juga harus bisa sebagai pendidik, mendidik para calon dan pengguna perpustakaan dalam menggunakan perpustakaan dan fasilitasnya. Mengenalkan pengguna tentang perpustakaan tersebut. Pustakawan juga bisa kayak “tour guide” ketika perpustakaan kedatangan tamu, baik dari perpustakaan lain, maupun tamu dari luar negeri, harus bisa bahasa asing juga.
Pustakawan juga belajar ilmu psikologi untuk mengetahui kebatinan si pemustaka. Misal pemustaka clingukan kaya orang bingung, pustakwan menghampiri dan bertanya : “mau cari buku apa mas?/mbak?” kalau pustakawan kerja di sekolah dasar, pustakawan bisa seketika menjadi pendesain ruangan. Mengubah ruangan polos menjadi ruangan pelangi. Dan ini ni, pustakawan bisa tiba-tiba menjadi mbah google ketika perpustakaan yang terotomasi Online Public Acces Catalogue (OPAC) nya lagi error atau penuh dipakai orang. Pemustka boleh bertanya, contohnya ketika pemustakanya tanya : “ma’af, buku novel Indonesia Rantau 1 Muara kira-kira sebelah mana ya?” pustakawan jawab : “lantai empat, sebelah barat, rak nomor 800, nomor panggil 813 FUA r.”
Tetapi, untuk menjadi “profesi multi subjek ilmu” kita sebagai pustakawan yang normalnya belajar 8 semester atau 4 tahun ini harus belajar di Ilmu Perpustakaan ini dengan sungguh-sungguh. Kalau kita belajar gag sungguh-sungguh sama aja kita dengan pustakawan jeblosan training 2 hari. Ibarat orang naik pohon gag bisa turun. Kita sama-sama bisa otomasi, tapi ketika programnya error, belum tentu kita semua bisa perbaiki. Perlu belajar untuk itu. Belajar, belajar, dan doa.
Salam librarian,
“I’m Librarian. Yes, I can do the best”
(IDKS kelas C)
Anik Nur Azizah


Older Posts Home

ABOUT AUTHOR

My photo
Anik Nur Azizah

Anik Nur Azizah
Ekamas 48
Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga
View my complete profile

Follow us

Facebook  Twitter  Instagram 

POPULAR POSTS

  • Tak Perlu Basa Basi untuk Nongkrong di Kafe Basabasi
    Terlalu banyak basa basi sampai dia jadi milik orang itu sudah biasa terjadi. Pergi ke Kafe Basabasi untuk menepi, menyepi, sendiri dan ...
  • Menikmati Sore di Kopi Kampung Ambarukmo (KoKamBar) : nonton kereta dan pesawat lewat
    Baca juga : Kopi Kali Petung Melepas penat setelah pulang kerja atau kuliah terkadang perlu dilakukan oleh sebagian orang. Banyak...
  • Review Pengiriman Barang Via Wahana Prestasi Logistik
          Awalnya berkirim surat maupun barang bisa dilakukan melalui kantor pos. Namun kemudian, semua berubah ketika negara api menyerang. No...
  • Alasan Pohon Pulai Ditanam Di Gedung Perpustakaan
    Kenapa? karena semua butuh alasan, meskipun cinta tak butuh alasan. Bahkan menanam pohon saja juga ada alasan yang mendasarinya. Di Balai ...
  • Upacara Adat Cing-Cing Goling, Kisah Pelarian Kerabat Majapahit
    photo by: radarjogja "Cing-cing Goling", berasal dari menyingsingkan atau dalam bahasa Jawa "Cincing", dan "Go...
  • Kopi Panggang yang tidak dipanggang, dilengkapi Tiwul khas Gunungkidul
    Nah loh, gimana coba kopi Panggang tapi tidak dipanggang. Ya walaupun pembuatan kopi memang disangrai juga. haha Panggang yang dimaks...
  • Pameran Literasi dan Budaya #idks 2015
    photo by Sri Rohyanti      Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kembali menggelar ...
  • Wajah Baru Kokambar
    Photo by Dimas Catur      Saking menariknya KoKamBar (Kopi Kampung Ambarukmo), admin mereview sampai ketiga kalinya. Ekhem, dapet payun...
  • Islam Cinta di Kafe BasaBasi Sorowajan bersama Habib Husen Ja'far Hadar
    photo from twitter @arcotransept Malam Minggu admin kali ini 7/9/2019 sedikit berfaedah dengan nongkrong di Kafe Basabasi. Yang biasany...
  • Mojok di PW Coffeeshop with Kongdjie
         Biasanya admin suka ngopi sendiri di tempat ngopi yang besar dengan harga standar, seperti warkop di daerah Sorowajan. Kenapa? karen...

Categories

  • Bucin Time
  • Cerita
  • IDKS
  • Librarian Corner
  • Warung Kopi
  • Wisata

Blog Archive

  • ▼  2020 (7)
    • ▼  October (2)
      • Mampir Kopi n Susu Kembang Sawah
      • Review Pengiriman via JNE, Alhamdulillah Selalu Am...
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2019 (22)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (4)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2014 (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (2)
  • ►  2009 (1)
    • ►  March (1)

Total Pageviews

>

About Me


Anik Nur Azizah
Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia
ziezzhakky@gmail.com

Popular Posts

  • Tak Perlu Basa Basi untuk Nongkrong di Kafe Basabasi
    Terlalu banyak basa basi sampai dia jadi milik orang itu sudah biasa terjadi. Pergi ke Kafe Basabasi untuk menepi, menyepi, sendiri dan ...
  • Menikmati Sore di Kopi Kampung Ambarukmo (KoKamBar) : nonton kereta dan pesawat lewat
    Baca juga : Kopi Kali Petung Melepas penat setelah pulang kerja atau kuliah terkadang perlu dilakukan oleh sebagian orang. Banyak...
  • Review Pengiriman Barang Via Wahana Prestasi Logistik
          Awalnya berkirim surat maupun barang bisa dilakukan melalui kantor pos. Namun kemudian, semua berubah ketika negara api menyerang. No...

Copyright © 2019 Pustakaku.

Created by Anik Nur Azizah

Theme By Anik Nur Azizah