Pustakaku

Jalani, Tapi Jangan Sendiri

Copyright Anik Nur Azizah. Powered by Blogger.
  • Beranda
  • Cerita
  • Wisata
  • Warung Kopi
  • Librarian Corner
  • Bucin Time


Kantong kering?
Pikiran pecah-pecah?
Belum gajian tapi pengen dolan?
Anda tidak perlu khawatir, karena admin juga merasa demikian. Anda tidak sendiri. Banyak orang merasakan hal yang Anda alami, hanya saja jutaan orang seperti mereka tidak menyadari. Solusinya mudah, dolanlah, bahkan ketika tidak punya uang sama sekali. Hanya saja, harus tetap sadar diri. Carilah tempat dolan yang sekiranya tidak membuat kantong kering, tapi tetap bisa membuat Anda hepi ending. 

     Dimanapun Anda berada, tetaplah bersyukur dengan tempat tinggal Anda. Tinggal di kota, dapat jalan-jalan di Mall, cukup bayar parkir 2ribu rupiah dan dapat berkeliling Mall sepuasnya, dengan catatan tidak belanja sama sekali. Apabila tinggal di desa Anda harus semakin bersyukur, karena tidak ada Mall, sehingga tidak perlu mengeluarkan 2ribu untuk parkir. Tapi, Anda juga tidak perlu khawatir, karena di desa ada sawah, gunung, lembah dan sungai yang mengalir indah sampai ke samudera.

     Berbicara tentang dolan keluar rumah dengan harga yang murah, Yogyakarta memiliki banyak destinasi wisata baru, bahkan lama yang cukup terjangkau untuk dikunjungi pada tanggal tua. Salah satunya yakni Grojogan Watu Purbo, di kali Krasak yang menjadi batas Sleman dan Magelang. Tepatnya di Bangunrejo, Merdikorejo, Tempel, Sleman, Yogyakarta. Grojogan Watu Purbo termasuk destinasi wisata baru, tapi sebenarnya sudah lama ada. Seperti perasaanku ke kamu, yang baru tersampaikan, padahal sudah lama ada. 

     Grojogan Watu Purbo memang sudah dibangun sejak lama, hanya saja, baru kemudian dibersihkan dan dikelola oleh warga setempat dan banyak dikunjungi oleh wisatawan. Seperti sungai pada umumnya, air di Kali Krasak ini mengalir sampai jauh, yang membedakan adalah grojogan yang memiliki beberapa tingkatan. Tingkatannya tidak berdasarkan kasta, tetapi memang dari tinggi ke rendah sesuai aliran air. Apaan sih mbak. 

     Akses jalan menuju Grojogan Watu Purbo cukup mudah, selama masih ada kuota untuk akses google maps. Meskipun jalan masuk ke lokasi Watu Purbo sedikit tidak meyakinkan karena jalannya masih bebatuan. Kanan kirinya masih sawah, tempatnya masih asri dan kamu tetap memilih pergi. Mobil dan motor dapat dengan mudah melewatinya, hanya saja jalanan licin ketika musim hujan. walaupun hujannya sudah, tanahnya masih basah, dan tanahnya becek. Seperti hubungan kita, hubungannya usai, tapi kenangannya masih menjuntai, adanya hanya halu.

     Sesampainya di Grojogan Watu Purbo, Anda dapat menuruni tangga, melewati pepohonan yang asri. Anda juga dapat jebur ke sungai karena tidak begitu dalam, hanya saja bebatuan yang sedikit licin membuat Anda harus tetap berhati-hati. Ada tangga menuju setiap tingkatan grojogan, airnya dangkal sehingga Anda dapat 'keceh' di Kali Krasak ini. Pastikan cuaca cerah, jika hujan kenangan tiba, dikhawatirkan air akan besar, sehingga tidka dapat keceh. Datanglah pada pagi atau sore hari agar tidak terlalu panas. Keceh di siang hari dapat membuat Anda gagal glowing. 


     Bagi Anda yang tidak suka keceh, dapat menunggu di bantaran sungai, sembari menggelar tikar dan ghibah berjamaah. Ada beberapa pedagang yang juga dapat membantu Anda memberantas kelaparan dengan se cup p*p mie dan seplastik es teh. Tidak ada penyewaan tikar, sehingga Anda dapat 'ndlosor' atau nangkring di bebatuan apabila ingin duduk menikmati indahnya pemandangan kali dan manusia yang menggagalkan ke glowingan mereka sendiri. Jika Anda beruntung, pengelola akan memutarkan musik dangdut yang dapat Anda nikmati dan lantunkan bersama suara-suara sumbang pengunjung yang ikut bernyanyi. Ada warni-warni bunga kertas yang bagus untuk berfoto, namun jangan dipetik dan dibawa pulang, nanti sayang. 

     Belum ada biaya retribusi untuk masuk di Grojogan Watu Purbo. Hanya dikenakan biaya parkir sepeda Rp2000,-, motor Rp5000,- dan mobil Rp10.000,-. Bawalah salah satu saja, sepeda, atau motor, jangan membawa sepeda motor. Selain akan kerepotan membawanya, Anda juga harus membayar sepeda dan motor. 

     Ada beberapa kantong sampah yang disediakan pengelola. Tetap jaga kebersihan, jaga hati, jaga perasaan. Jangan sampai diambil orang. 

     Dimana Turi? bukan di hatinya, tetapi di kaki gunung merapi. Sebuah kecamatan yang terkenal dengan salak pondohnya, dengan cuaca yang selalu dingin seperti sikap dia. Sebuah kecamatan dengan saluran irigasi yang airnya selalu mengalir tanpa takut kering. Diantara dinginnya Turi, diantara sela-sela pohon salak di kanan kiri jalan aspalnya, terdapat beberapa tempat nongkrong asyik di Turi. Turi-Turi Coffee salah satunya.


     Turi-turi Coffe, merupakan salah satu tempat nongkrong yang terletak di Kecamatan Turi. -ya jelas dong mbak- Beberapa orang mengaki kesasar datang di Turi-turi Coffee, padahal sebenarnya tempatnya cukup mudah ditemukan. Jika pengunjung dari arah jalan Palagan, dari perempatan pasar Turi ke kanan, naik ke arah Girikerto. sekitar 100m terdapat penunjuk arah di krii jalan, ikuti saja petunjuk arahnya, sampai di kiri jalan terdapat embung. Berbelok ke arah embung dengan mengitari 1/2 lingkar embung, dan akan sampailah Anda di Turi-turi Coffee. Dengan sebuah keadaan, ngopi, menghadap embung, melihat pemandangan gunung Merapi jika langit cerah. Jika Merapi sedang malu, hanya melihat pemandangan kanan kiri salak, di depan ada embung dan gumpalan mendung. 

     Jangankan ngopi sambil bercerita haha-hihi, di tempat dingin seperti di Turi-turi Coffee, makan Ind*mie menjadi 3 tingkat lebih nikmat, apalagi menyeripit kopi hangat, atau teh hangat, dengan bakmi jawa yang kemebul. Hanya saja, syahdunya perpaduan antara bercerita dan suasananya membuat admin lupa tidak mengabadikan beberapa makanan dan minuman yang di pesan. Makanan datang langsung sikat. Beberapa waktu lalu datang di siang yang cukup terik, sehingga tidak terlalu dingin, dan setelah kondangan sehingga masih kenyang. Memesan es lemon dan lumpia, dan ternyata maknyus. Memang makanan dan cemilan di Turi-turi Cofee cukup enak, teramasuk pisang gorengnya. 

Harga Makanan Dan Minuman


Harga standar kafe. Terdapat beberapa jenis olahan kopi, seperti machiato, latte, greentea latte dan beberapa lainnya dengan harga 20-25 k
Harga minuman yang lain juga menyesuaikan, seperti es teh, es jeruk, lemon squash, dari 3-20k
Harga cemilan standar, seperti dibeberapa tempat nongkrong lainnya 10k
Harga makanan berat seperti bakmi, nasi goreng sekitar 25k bonus es teh
Ada beberapa jenis arabica dan robusta dari beberapa daerah, tapi harganya kurang tau.

    Datang di siang hari, dan Anda dapat memilih tempat. Mulai jam 3-an tempat ini cukup ramai. Bahkan, semakin sore semakin ramai. Ada 3 pilihan tempat yang disediakan:
Di bagian depan cafe
-Di bagian depan memang kursi dan mejanya egois, tidak disusun melingkar, hanya dapat ditempati kelompok kecil atau berdua. menghadap ke embung, dan syukur-syukur merapi bila kelihatan.

Di bagian dalam
-Ada tempat memesan orderan disini. Ada banyak kursi dan meja untuk partai besar. bisa beramai-ramai dan pastinya tidak takut kehujanan. Tempatnya remang-remang tapi cukup terang untuk mengenali wajah teman Anda. 

Di bagian tengah
-Ada sedikit taman kecil, hanya bisa digunakan untuk ngobrol berdua saja. dan kursi panjang yang lumayan untuk ndlosor. Serta dari sini dapat melihat pohon salak di bagian kanan kiri kafe. terkadang juga sedikit ditanami padi. 


       Di bagian belakang sebenarnya juga terdapat tempat prasmanan. Ada beberapa masakan jawa dan rasanya kurang begitu tahu, karena belum pernah mencoba. Kapan-kapan lagi mungkin. -jika ada yang menemani. Di patok harga 25k, tetapi All you can Eat, bisa ambil semua sayurnya, haha. 

Sembari kulakan salak, bisa mungkin mampir kesini. 


Kuliner, sebuah kebutuhan, gengsi, atau sekadar menjadi sebuah rekreasi dari kepentingan rasa. Entah rasa yang pernah ada maupun rasa yang tertinggal. Makan adalah sebuah kebutuhan untuk menyambung hidup, sedangkan kulineran merupakan kebutuhan, ajang gengsi untuk sekadar "aku pernah mencicipinya", atau menjadikan sebuah ketergantungan memanjakan lidah, "enak nih, pengen kesana lagi". 

Di Jogja, ada beragam kuliner menarik, unik, tapi tidak membuat kantong panik. Ratusan, bahkan jutaan jenis makanan mungkin dapat ditemukan di Jogja, dengan harga yang biasa aja, terjangkau, bahkan "ah, murah". Tidak hanya sekadar untuk "aku pernah makan disana", tapi juga mengajak "disana enak, ayuk kesana lagi". Bukan tentang dia, tapi tentang rasa, dan harga tentunya. Rasa enak, harga bersahabat, itulah yang membuat banyak kuliner di Jogja tetap ramai dan eksis.


Salah satu kuliner yang "mungkin" lumayan terkenal adalah Ayam Cha Do Jo. Menjadi menu favorit di RM. Pesona Sabin. Sebuah rumah makan yang lokasinya dekat dengan Ambarukmo Plaza, tapi cukup membuat google maps migrain. Di belakang Ambarukmo Plaza ada gapura gang, lurus, mentok naik ke kiri. Atau jika lewat Nologaten, depan bakso Klenger Ratu Sari ada jalan paving perumahan, mentok, lurus naik, ambil kiri. Rumah makannya memang sangat "jepit", tapi ramainya luar binasa. Kalau sudah lewat magrib, kudu sabar pokoknya antri disini, dari pesan sampai makan bisa 2 jam. Disambi main uno bisa 3 puteran. 

RM Pesona Sabin ini menyediakan beberapa menu, seperti nasi goreng, capcay, bakmi, kwetiau, cha udang dan menu favoritnya adalah Ayam Cha Do Jo. Ayam Cha Do Jo merupakan sebuah glondongan potongan ayam yang dibalut tepung, disiram dengan kuah capcay saos merah, ada tahunya, sayurnya, jamurnya, krupuknya, dan ada perhatiannya. haha. Satu porsinya kenyang dimakan sendiri, beberapa manusia dengan perut super masih kuat nambah seporsi nasi. Menu ini memang favorit, ada ayam, ada tepung, di piringnya berendam kuah merah, panas, muda,beda dan berbahaya. 

Harganya tidak perlu khawatir mahal, seporsi ayam cha, dan es teh hanya Rp. 16.000,-. Tambah nasi hanya Rp. 2.000,-, sabarnya yang berjuta-juta menanti makanan datang. Selain Ayam Cha Do Jo, kwetiaunya juga enak, capcaynya juga. Kadang pas mau makan mikir, beli capcay ah, atau beli kwetiau, pas sampai disana seperti ada bisikan "Ayam Cha aja". Akhirnya pesan ayam cha lagi, ayam cha lagi. Harga semua menu sama, yakni Rp.14.000,-. Hanya harga diri dan kesetiaan yang mahal.

Bagi kamu, kamu, dan kamu yang belum pernah mencoba, boleh nih coba-coba. Kadang, awalnya memang coba-coba, lama-lama bisa ketagihan. 
     Jogging merupakan salah satu mengisi waktu luang yang sehat, dan tanpa boros. Beberapa orang suka jongging di JEC maupun GSP-UGM. Tapi jogging di dua tempat tersebut tetap saja penat tidak banyak berkurang karena sama saja melihat gedung lagi, gedung lagi. Admin suka jogging di tempat yang bernuansa alam, jauh dari gedung tinggi, jauh dari asap kemebul, dimana lagi tempatnya, yaps, di embung Tambakboyo. Sebuah embung yang menggunakan nama Boyo tapi sejatinya tidak ada boyo ngambang di embung ini. Tambakboyo merupakan salah satu tempat perjoggingan favorit di Jogja karena ada airnya, ada ikannya, dan ada anjing yang lucu-lucunya. Bonusnya ada mas-mas bening-bening, dan bisa ngrecokin bapak-bapak yang lagi mancing juga. Di sore hari banyak jajan yang dapat dibeli untuk nyambi ngemil (yang membuat jogging menjadi sia-sia). Jika anda punya keinginan, dan juga punya uang, di Tambakboyo juga memiliki spot untuk kelas berkuda. Hanya saja, banyak sampah yang mengganggu ikan-ikan yang berenang kesana kemari dan tertawa. Sampah-sampah yang mengambang seperti status kita. Mengambang, tidak dapat diurai, tapi masih tetap ada, menimbulkan endapan, dan luapan emosi. 
     Jogging di Tambakboyo pada pagi hari juga sama asyiknya, udara lebih segar, orang mancing lebih banyak, biaya parkir juga sama, 2000 rupiah. Beberapa warung juga buka, menyediakan gorengan, kopi dan juga nasi kucing. Salah satu warung yang sering admin 'ampiri' adalah angkringan Ramingkem. Sebenarnya, tidak mirip angkringan tapi lebih mirip rumah makan. Mungkin karena memiliki gerobak angkringan, sehingga menobatkan dirinya sebagai angkringan. 

     Seperti gerobak angkringan pada umumnya, terdapat sego kucing, gorengan, sesatean ala angkringan, baceman, beraneka minuman sachet, tanpa ceret. Tidak adanya ceret di gerobak angkringan Ramingkem mengurangi sekian persen ke-hakikian sebuah angkringan. Tapi, tidak begitu masalah, karena kita tetap dapat pesan wedang. Makanan ambil sendiri, bayar pas selesai makan. Pesan minum saja juga bisa, sembari menikmati pemandangan embung Tambakboyo dan melihat indahnya pemandangan abang-abang tampan berkeringat. Jangan khawatir diusir di angkringan Ramingkem karena kelamaan nongkrong, karena angkringan ini memiliki sebuah moto "Gratis Nggambleh sa' blengere", sehingga kita diijinkan untuk nongkrong selama apapun disini. Harganya sedikit lebih mahal, tetapi juga termasuk terjangkau untuk bangsa mahasiswa. 







     Selain beberapa menu yang tertera, angkringan Ramingkem juga memiliki menu khas yakni nasi goreng dan Tongteng (Tongseng+tengkleng) ayam kampung. Angkringan Ramingken terkonsep seperti warung makan, luas, bersih, dapat digunakan untuk nggambleh, dan diskusi. Selain tempatnya yang adem karena di bawah pepohonan, terdapat mushola dan kamar mandi yang bersih. Bangunan aksen bambu yang sangat tradisional, dengan beberapa kata-kata mutiara yang menusuk kalbu. Pemilik angkringan ini juga ramah, sehingga kita berasa makan di rumah sendiri, tapi tetap bayar. 

     Embung Tambakboyo secara umum menjadi tempat yang sangat tepat untuk menjaga kesehatan raga, dan jiwa karena pemandangan embung yang dapat menghilangkan penat. Dan beberapa warung yang dapat menghilangkan lapar, salah satunya angkringan Ramingkem. Rumah makan menyamar angkringan yang menjadi media penunjang pengunjung Tambakboyo untuk mangap meng-ghibahkan manusia di lingkungan Anda. Tanpa Anda sadari, jogging yang dilakukan menjadi sia-sia karena lemak yang terbakar dengan cepat tergantikan oleh cemilan yang menarik Anda untuk melahapnya. Bayangkan! Bagi manusia seperti admin ini, jogging di Tambakboyo merupakan sebuah tempat alibi berlari dari problematika duniawi. Karena kenyataannya, 0% Jongging, 40% Mbadog, dan 60% Mbacot. Jogging hanya sebuah status, agar dapat diupdate

   Saya, admin blog ini, mengucapkan, jangan lupa sarapan . . .




photo by: radarjogja
"Cing-cing Goling", berasal dari menyingsingkan atau dalam bahasa Jawa "Cincing", dan "Goling" merupakan arti dari goyah iman karena dampak dari "cincing".
  
     Upacara adat cing-cing goling merupakan sebuah acara adat yang telah dilaksanakan sejak abad ke-15, di desa Gedangrejo, Karangmojo, Gunungkidul. Upacara Cing-cing Goling ini dilakukan setiap tahunnya pada bulan Agustus. Dalam pelaksanaan upacara adat ini, dilakukan siang hari setelah Dhuhur, dengan diawali pasukan Bergada dari desa Gedangrejo. Pelaksaan upacara adat Cing-cing Goling juga sebagai perwujudan rasa syukur dan media shodaqoh masyarakat Gedangrejo kepada masyarakat yang menyaksikan acara ini. Masyarakat Gedangrejo membuat ingkung dan umborampenya yang nantinya dimakan bersama-sama. Ada juga sesaji "panjang ilang" yang berisi hasil bumi yang juga diperebutkan oleh penonton Upacara Cing-cing Goling.
     Cing-cing Goling menceritakan tentang pelarian kerabat Majapahit yakni Raden Wisang Sanjaya beserta istri, Tropoyo dan Yudhopati. Dalam pelariannya, istri dari Raden Wisang Sanjaya dikejar-kejar oleh sekelompok brandalan. Karena menggunakan "Jarit" dan susah untuk berlari, akhirnya istri Wisang Sanjaya menyingsingkan jaritnya, atau dalam bahasa Jawa disebut "Cincing". Betis dari istri Raden Wisang Sanjaya yang terlihat kemudian menyebabkan sekelompok brandalan menjadi goyah imannya yang dalam bahasa Jawa disebut "Goling". Dari cerita iniah kemudian menjadi "Cincing Goling" atau yang sekarang disebut "Cing-cing Goling".
     Pada akhirnya, Raden Wisang Sanjaya dapat menyelamatkan istrinya dari sekelompok berandalan yang menginginkannya. Dalam pelariannya, kemudian Raden Wisang Sanjaya, istri, Tropoyo dan juga Yudhopati sampai di desa Gedangrejo Karangmojo. Di Gedangrejo, kedatangan Raden Wisang Sanjaya disambut dengan baik, dan diperhatikan oleh masyarakat Gedangrejo. Raden Wisang Sanjaya diberikan tempat tinggal dan  juga kebutuhan hidup.
Photo by : harygraphy on IG: @gkstory.official
     Sebagai rasa terima kasih kepada masyarakat Gedangrejo, kemudian Raden Wisang Sanjaya membuat sebuah bendungan agar dapat dimanfaatkan untuk mengairi sawah. Dulunya, pengairan sawah di desa Gedangrejo sendiri hanya memanfaatkan air hujan, sehingga hasil panen kurang maksimal. Bendungan yang dibuat oleh Raden Wisang Sanjaya ini dinamakan Bendungan Kedhung Dawang. Dengan adanya bendungan Kedhung Dawang, hasil panen menjadi lebih banyak. Biasanya dalam setahun hanya bisa 2 kali panen, semenjak adanya bendungan Kedhung Dawang bisa menjadi 3 kali panen. 
bendungan Kedhung Dhawang
    Bendungan Kedhung Dawang sampai saat ini masih dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Gedangrejo untuk mengairi sawah bahkan di musim kemarau. Untuk kembali mengenang jasa Raden Wisang Sanjaya, semenjak abad 15, masyarakat Gedangrejo kemudian membuat sebuah upacara adat yang menggambarkan kisah pelarian istri Raden Wisang Sanjaya yang dikejar oleh berandalan, yang kemudian disebut dengan "Upacara Adat Cing-cing Goling". Para pemeran upacara adat berlari-lari bahkan menginjak area perkebunan dan sawah milik masyarakat. Meskipun tanamannya diinjak-injak, pemilik lahan tidak marah, karena tanaman yang terinjak oleh pemeran Cing-cing Goling tidak akan mati, namun akan tambah subur. Untuk menjaga martabat wanita, dalam Upacara adat Cing-cing Goling, pemeran istri Raden Wisang Sanjaya diperankan oleh laki-laki.
     Di akhir upacara, masyarakat yang menyaksikan upacara Cing-cing Goling kemudian ngalap berkah dengan makan bersama kenduri atau berkat shodaqoh dari masyarakat Gedangrejo. Uniknya, dalam masakan yang disajikan dalam Upacara Adat Cing-Cing Goling, tidak boleh ada masakan 'Tempe' dalam bentuk apapun. Alasannya? akan kita bahas di artikel selanjutnya. 

     Upacara adat Cing-cing Goling sebagai warisan budaya di Gedangrejo, Karangmojo, Gunungkidul, DIY harus terus dilestarikan. Setidaknya, sebagai generasi muda harus tau tentang budaya di daerah masing-masing, dan semoga suatu saat nanti dapat membantu "nguri-uri" budaya yang sudah dilestarikan oleh nenek moyang sejak ratusan tahun silam. Tidak ada yang salah dalam upacara adat, dalam upacara adat tidak ada menyembah jin atau sebagainya. Sesaji yang ada diwujudkan sebagai sedekah agar keseimbangan kehidupan tetap berlangsung. Upacara adat mengajarkan sedekah, dan tetap menyukuri nikmat pemberian Tuhan dengan berbagi kepada sesama. 
Jangan kemudian memberi label syirik pada budaya yang sudah dijaga sejak lama. Jika tidak dapat berkontribusi, setidaknya jangan membuat luntur budaya kami.


BacaJuga : Review Pengiriman via JNE
     Sudah menjadi kebiasaan malam minggu semehdi di rumah atau di kosan sendiri, dan dibully. Malam minggu kali ini, mencoba malam mingguan dengan cara baru, yakni dengan mendaki gunung yang agak beneran. Ini pertama kali mendaki gunung di ketinggian lebih dari 2.000 Mdpl. Sebelumnya juga pernah mendaki, di Gunungkidul, Gunung Langgeran, Gunung Turgo, dan Puncak Suroloyo . . . . bukan gunung, bukit kali mbak . . .

     Untuk pertama kalinya, admin mendaki Gunung Prau pada Sabtu-Mingu, 22-23 Juni 2019, pada saat musim kemarau yang sangat dingin di pulau Jawa, tapi tetep sikap dia lebih dingin. Pertama kali mendaki, di keramaian, tetap kedinginan, karena menurut akun instagram @prau2590mdpl pada waktu tersebut suhu Dieng mencapai -5 derajat Celcius. Suhu Gunung Prau waktu tersebut tidak dapat admin pantau karena tidak ada signal, tapi kurang lebih ya tetep tidak tahu. Untungnya, admin sudah membawa peralatan dan perlengkapan komplit mendaki agar tidak kedinginan, tapi tetap saja, badan kaku-kaku.


     Karena tidak ingin ada berita "Lebih mengutamakan membawa skincare dibanding perlengkapan mendaki, seorang pendaki ditemukan hipotermia dalam keadaan glowing", admin lupa tidak bawa seperangkat peng-glowing wajah duniawi. Yang di dapat dari hasil pendakian ini, lelah iya, muka kusam, kering, bersisik, hitam dan iritasi. Tapi seneng banget pastinya. Inilah pentingnya membawa pelembab, handbody, pembersih wajah wa akhowatuha. Karena udara puncak Prau dingin, kering dan matahari bersinar terang di siang hari tetap membuat kulit terbakar.

     Awalnya gimana bisa mendaki di musim kemarau yang dingin ini? ya, awalnya coba-coba, lama-lama ketagihan . . . gak gitu juga. Karena gabut dan butuh pelarian, akhirnya memutuskan nekat mendaki padahal admin lemah, tanpa dia. Lumayan kan libur kantor 2 hari, berangkat Dhuhur dari Jogja, sampai basecamp Patak Banteng jam 5, lanjut naik dari jam 17.30 WIB, sampai puncak pukul 21.00 WIB. Kog lama? iya admin bisa jelasin, jiwa-jiwa yang lemah seperti admin ini butuh kepastian disetiap tanjakan. Meresapi setiap perjalanan, membayangkan betapa indahnya mendaki bersandingan, tapi semua itu hanya angan. Bayangnya semu, hanya ada ragu dan rindu yang tak saling berpadu. Akhirnya, ditemukan seorang pendaki pemula halu, yang setiap sepuluh langkah sekali duduk terpaku. Ini sesi inti tulisan pada artikel kali ini, sesi curhat. 


     Terus? terus? terus? banting kiri mbak, pol!siip. Sampai puncak sudah penuh tenda, mencari tanah bidang sembari mencium harum-harum Indomie goreng rendang, ayam geprek, iga penyet, cakalang, ikan asin, ikan wader, teri dan varian Indomie lainnya dari tenda-tenda pendaki lain. Setelah ketemu, bangun rumah tangga, dan hidup bahagia selamanya. Ya, pahamkan, bangun tenda. Yang lain ngopi, admin kerubutan sendiri, niat tidur, tapi malah melek semalaman karena kedinginan, sampai subuh. 

     Seperti adat pada umumnya, keluar tenda lihat tenda pendaki lain yang sudah kayak camp pasar malam saking ramainya. Ada bianglala, ombak banyu, kora-kora, penjual martabak, kerak telor, sate kere ada juga, dibatin aja tapi ya. Mungkin karena malam minggu. Lanjut memantau sunrise, foto-foto, masak, bikin teh, sarapan. Ngobrol dengan penghuni tenda yang lain, berbagi sarapan, berbagi cerita tapi tidak berbagi hati, karena gak ada peralatan medis kayak ruangan operasi. Turun jam 11.00 WIB, nah ini yang salah. Matahari bersinar terang, suhu dingin, udara kering, berdebu, sunblock kagak bawa, akhir kata, wassalam pada perawatan selama ini. Nyampe bawah, makan, kagak mandi, pulang. Ditanya pengen muncak lagi? jelas pengen, tapi takut, takut kedingingan. Sikap dia sudah dingin, jangan ditambah lagi.

     Mesti banget dipersiapkan sebelum muncak, yakni jiwa raga yang sehat dan kuat, peralatan yang lengkap, bekal yang memadai. Jangan lupa bawa harga diri, dan obat-obatan pribadi. Skincare jangan lupa, minimal vaselin petroleum jelly dan hand&body. Bawa gebetan sepertinya tidak terlalu diperlukan, apalagi kagak peka, wis, jangan. Yang penting bawa teman yang sabar dan perhatian. Tapi, jangan makan teman. 

      Jangan lupa jaga kebersihan, bawa kembali sampah kalian. Ikuti aturan dari basecamp. Kita bukan apa-apa tanpa alam. Jaga dia tetap lestari, layaknya Tuhan mengasihi kita tanpa tapi. 

     See ya on top. Walaupun hanya sebatas teman, tetaplah perhatian, jangan sampai kalah sama mantan. 


Baca juga: Wajah Baru Kokambar (Kopi Kampung Ambarukmo)

"Mendaki gunung, lewati lembah . . . " nyebur sungai sampai ke samuderanya jangan. Melalui perjalanan

mendaki gunung, sampai puncaknya kita akan mendapatkan pemandangan yang indah, termasuk menaiki puncak sosok. Puncak sosok merupakan salah satu destinasi wisata para pencari sunset di Bawuran, Bantul yang dapat dikategorikan sebagai tempat yang baru.  Sekitar 9 km dari Janti atau blok-O, alamatnya bisa dicari di google maps, InsyaAllah valid hingga 90% asal ada kuota. Keberadaan destinasi Puncak Sosok mulai dikelola pada tahun 2017 dan baru mulai ramai beberapa waktu terakhir. Faktor "U-sia" menjadi salah satu sebab Puncak Sosok "muda" belum banyak pengunjung, karena pada awal dibuka akses jalan menuju Puncak Sosok 'kecil' masih dalam perbaikan. Awalnya, jalan menuju Puncak Sosok hanya dapat dilalui oleh kendaraan roda dua, kemudian dengan adanya perbaikan jalan sekarang Puncak Sosok dapat diakses menggunakan kendaraan roda empat.
Tidak ada biaya retribusi masuk Puncak Sosok, cukup membayar parkir 5k untuk roda dua. (Pas musim liburan, atau suka-suka pengelola)

KEISTIMEWAAN PUNCAK SOSOK


Seperti tempat ngesunset pada umumnya, Puncak Sosok menawarkan ketinggian, bukan tinggi hati maupun darah tinggi, melainkan tempat yang tinggi karena memang berada di puncak bukit. Pada waktu sore pengunjung dapat menyaksikan matahari terbenam hari mulai malam, dan malamnya akan dapat menyaksikan pemandangan seperti di bukit bintang. "Njuk istimewanya apa mbak?".  Keistimewaan Puncak Sosok, karena di tempat ini pengunjung dapat melihat puluhan sapi secara liar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan. Kapan lagi bisa lihat sapi dalam jumlah banyak kan? Tapi tenang, bau sampah tidak akan tercium dari Puncak Sosok. Skip
Keistimewaan Puncak Sosok ada pada lokasinya yang berada di puncak bukit, dengan konsep lahan yang menurun seperti tribun dengan layar dan panggung kecil di depan. Beberapa warung unik juga menjadi ciri khas tersendiri dari Puncak Sosok. Pada waktu tertentu, pengelola menampilkan live music yang lagunya enak untuk dimakan. Dan cemilan yang enak untuk didengar. *Kebalik min. Beberapa spot foto juga tersedia, namun diharap untuk tidak berfoto terlalu romantis, untuk menjaga perasaan para jomblo yang meramaikan Puncak Sosok. Pesan layanan masyarakat ini disponsori dan disampaikan oleh pengunjung yg lain------

HARGA MENU MAKANAN DAN MINUMAN


Prinsip bawa bekal di tempat wisata agar irit tidak berlaku di Puncak Sosok. Harga jajanan dan minuman terbilang cukup murah, tidak sebanding dengan perjuangan bakulnya membawa makanan tersebut sampai Puncak Sosok, terharu. Beberapa menu yang ditawarkan :
Indomie Biasa             5k
Indomie Komplit        8k
Pop mie.                      7k
Gorengan 1porsi         5k (isi 6 biji)
Sego Wiwit                 2.5k

Sego wiwit ini sendiri menjadi salah satu khas dari Puncak Sosok. Nasi gurih bungkus kecil, dengan lauk kering tempe dan sambel, enak.

Harga minuman standar, 3-5k, tergantung teh, jeruk, atau minuman saschet lainnya. Tersedia juga wedang uwuh dan wedang jahe yang dapat menghangatkan badan dari dinginnya sikap dia.

Tips:
Bagi Anda yang suka bersepeda, Puncak Sosok menjadi tempat yang tepat untuk bersepeda dan sering digunakan untuk event beberapa komunitas sepeda.
Bagi Anda yang mengendarai motor matic, pastikan kondisi motor sehat. Dikhawatirkan, motor kuat sampai atas, tapi bingung pas turun karena rem kurang sehat.
Bagi Anda yang suka berfoto, jangan lupa bawa kamera yang bagus agar hasil foto juga maksimal.
Bagi Anda yang bersama pasangan, harap dijaga baik-baik agar tidak tertinggal.
Bagi Anda yang tidak mendapatkan tempat duduk dan lupa tidak membawa tikar, ada persewaan tikar 5k pertikar-nya

Selamat menikmati liburan murah, sehat dan sempurna di Jogja. Sampai jumpa di pelaminan.


Older Posts Home

ABOUT AUTHOR

My photo
Anik Nur Azizah

Anik Nur Azizah
Ekamas 48
Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga
View my complete profile

Follow us

Facebook  Twitter  Instagram 

POPULAR POSTS

  • Tak Perlu Basa Basi untuk Nongkrong di Kafe Basabasi
    Terlalu banyak basa basi sampai dia jadi milik orang itu sudah biasa terjadi. Pergi ke Kafe Basabasi untuk menepi, menyepi, sendiri dan ...
  • Menikmati Sore di Kopi Kampung Ambarukmo (KoKamBar) : nonton kereta dan pesawat lewat
    Baca juga : Kopi Kali Petung Melepas penat setelah pulang kerja atau kuliah terkadang perlu dilakukan oleh sebagian orang. Banyak...
  • Review Pengiriman Barang Via Wahana Prestasi Logistik
          Awalnya berkirim surat maupun barang bisa dilakukan melalui kantor pos. Namun kemudian, semua berubah ketika negara api menyerang. No...
  • Alasan Pohon Pulai Ditanam Di Gedung Perpustakaan
    Kenapa? karena semua butuh alasan, meskipun cinta tak butuh alasan. Bahkan menanam pohon saja juga ada alasan yang mendasarinya. Di Balai ...
  • Upacara Adat Cing-Cing Goling, Kisah Pelarian Kerabat Majapahit
    photo by: radarjogja "Cing-cing Goling", berasal dari menyingsingkan atau dalam bahasa Jawa "Cincing", dan "Go...
  • Kopi Panggang yang tidak dipanggang, dilengkapi Tiwul khas Gunungkidul
    Nah loh, gimana coba kopi Panggang tapi tidak dipanggang. Ya walaupun pembuatan kopi memang disangrai juga. haha Panggang yang dimaks...
  • Pameran Literasi dan Budaya #idks 2015
    photo by Sri Rohyanti      Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kembali menggelar ...
  • Wajah Baru Kokambar
    Photo by Dimas Catur      Saking menariknya KoKamBar (Kopi Kampung Ambarukmo), admin mereview sampai ketiga kalinya. Ekhem, dapet payun...
  • Islam Cinta di Kafe BasaBasi Sorowajan bersama Habib Husen Ja'far Hadar
    photo from twitter @arcotransept Malam Minggu admin kali ini 7/9/2019 sedikit berfaedah dengan nongkrong di Kafe Basabasi. Yang biasany...
  • Mojok di PW Coffeeshop with Kongdjie
         Biasanya admin suka ngopi sendiri di tempat ngopi yang besar dengan harga standar, seperti warkop di daerah Sorowajan. Kenapa? karen...

Categories

  • Bucin Time
  • Cerita
  • IDKS
  • Librarian Corner
  • Warung Kopi
  • Wisata

Blog Archive

  • ▼  2020 (7)
    • ▼  October (2)
      • Mampir Kopi n Susu Kembang Sawah
      • Review Pengiriman via JNE, Alhamdulillah Selalu Am...
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2019 (22)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (4)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2014 (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (2)
  • ►  2009 (1)
    • ►  March (1)

Total Pageviews

>

About Me


Anik Nur Azizah
Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia
ziezzhakky@gmail.com

Popular Posts

  • Tak Perlu Basa Basi untuk Nongkrong di Kafe Basabasi
    Terlalu banyak basa basi sampai dia jadi milik orang itu sudah biasa terjadi. Pergi ke Kafe Basabasi untuk menepi, menyepi, sendiri dan ...
  • Menikmati Sore di Kopi Kampung Ambarukmo (KoKamBar) : nonton kereta dan pesawat lewat
    Baca juga : Kopi Kali Petung Melepas penat setelah pulang kerja atau kuliah terkadang perlu dilakukan oleh sebagian orang. Banyak...
  • Review Pengiriman Barang Via Wahana Prestasi Logistik
          Awalnya berkirim surat maupun barang bisa dilakukan melalui kantor pos. Namun kemudian, semua berubah ketika negara api menyerang. No...

Copyright © 2019 Pustakaku.

Created by Anik Nur Azizah

Theme By Anik Nur Azizah