Pustakaku

Jalani, Tapi Jangan Sendiri

Copyright Anik Nur Azizah. Powered by Blogger.
  • Beranda
  • Cerita
  • Wisata
  • Warung Kopi
  • Librarian Corner
  • Bucin Time
Sayang kalo enggak dipost. Niatnya ikut lomba tapi kalah, jadi konten blog aja kan lumayan. Tidak ada perjanjian bahwa karya milik panitia. Haha

Jadi gini . . .



Setiap orang pastinya memiliki impian, baik rumah impian, pekerjaan impian, keluarga impian, dan bahkan perpustakaan impian. Seperti apa perpustakaan yang kemudian diimpikan? Apakah seperti Grhatama Pustaka? Bisa jadi iya, bisa jadi lebih dari Grhatama Pustaka. Secara awam, perpustakaan diketahui sebagai gedung yang menyimpan buku untuk dipinjamkan kepada pemustakanya. Kemudian perpustakaan berkembang, memiliki ruang baca yang dibuat nyaman untuk membaca, memiliki beberapa ruangan lain seperti audio visual, ruang digital, sedikit taman, bahkan memiliki kantin.
Kebanyakan perpustakaan kemudian berlomba menjadi “instagramable” agar terlihat menarik, padahal fungsi rekreasi merupakan salah satu fungsi saja. Perpustakaan impian tidak melulu tentang kemegahan gedung, ornamen, dan hiasan dinding. Dalam sebuah keinginan, penulis memiliki dua pandangan berkaitan dengan perpustakaan impian, yakni secara realistis dan secara dramatis. Berikut penjelasan secara singkat :
A.Perpustakaan Impian Secara Realistis
   Perpustakaan impian secara realistis dapat dikatakan sebagai keinginan yang dapat diwujudkan secara nyata dan kemungkinan besar dapat dilakukan untuk mengembangkan sebuah perpustakaan. Impian ini dapat diwujudkan untuk memenuhi kebutuhan informasi dan kebutuhan penunjang bagi pemustaka agar dapat secara efektif dan efisien mendapatkan informasi di perpustakaan. Ada beberapa gambaran sederhana terkait dengan perpustakaan impian secara realistis, diantaranya :
1. Sesuai Fungsi Perpustakaan
Perpustakaan memiliki fungsi sebagai sumber informasi, sarana pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat serta fungsi rekreasi. Beberapa dari fungsi tersebut belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh perpustakaan. Keterbatan ruang dan koleksi tidak sesuai dengan tingginya kebutuhan informasi. Impian dari fungsi perpustakaan sederhana, yakni semua perpustakaan terintegrasi tanpa tapi. Dimana pemustaka bisa mendapatkan sumber informasi, mendapatkan pendidikan, melakukan penelitian, berkontribusi dalam pengabdian masyarakat, dan juga berekreasi dimanapun perpustakaan berada. 
2.Memiliki carrel Room kedap suara
.Carrel Room di perpustakaan hanya sebatas ruang sekat agar tidak terganggu dengan suasana di luar carrel. Padahal, tipe belajar setiap pemustaka berbeda. Ada yang kemudian suka mendengarkan musik, sambil bertelfon atau video call, dan beraktivitas lain sembari mengerjakan tugas dan belajar. Suara tersebut dapat terdengar sampai luar carrel, sehingga pemustaka kurang leluasa bersuara di dalam carrel. Bahkan ada juga tipe orang yang kemudian belajar, sambil menyanyi secara keras. Dengan carrel kedap suara, pemustaka lebih leluasa menikmati cara belajarnya.
3. Menyediakan Gadget Pustaka.
Perpustakaan menyediakan sudut perpustakaan dengan sofa beberapa gadget atau tablet yang dapat digunakan untuk pemustaka sembari menunggu atau ketika bosan di ruang baca. Gadget diisi dengan bacaan-bacaan ringan, koran digital, komik, dan bahan bacaan lainnya. Tidak ada syarat khusus untuk pemustaka meminjam gadget ini, dan perpustakaan tidak perlu khawatir kehilangan karena gadget dihubungkan dengan kabel pengaman seperti di toko smartphone atau laptop.
4. Terdapat minimarket
Adanya kantin di perpustakaan sudah menjadi hal yang biasa, tetapi adakah perpustakaan yang menyediakan minimarket? Terkadang pemustaka membutuhkan beberapa peralatan atau perlengkapan untuk belajar yang tidak dapat dipinjam kepada petugas. Bisa jadi pemustaka membutuhkan batterai mousenya, atau rautan untuk pensil, jepit rambut, peniti jilbab, dan benda-benda kecil yang tidak dapat disediakan oleh petugas.

B. Perpustakaan Impian Secara Dramatis
       Sah-sah saja kemudian memiliki sebuah khayalan, karena di jaman yang terus berkembang bisa jadi kecepatan cahaya benar-benar berlaku untuk mempercepat sebuah perpindahan atau bahkan ilmu santet dapat dijelaskan secara ilmiah. Sedikit banyak mendramatisir perpustakaan yang diimpikan, perpustakaan tidak hanya menyediakan koleksi untuk dibaca, dan dicerna oleh pemustaka. Akan tetapi perpustakaan kemudian menyediakan koleksi yang dapat menjelaskan dirinya sendiri kepada pemustaka. Buku menjadi sebuah benda mati dengan jutaan dimensi yang dapat menembus intuisi dan dapat diajak pemustaka untuk berinteraksi.
Pernah suatu ketika Ibu Labibah Zain, Dosen Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, menyampaikan pada perkuliahan beliau, bahwa perpustakaan adalah kuburan pemikiran dari penulis buku tersebut. Bisa dibayangkan ketika berjalan menyusui rak-rak buku di perpustakaan kemudian muncul kepala-kepala dari masing-masing buku. Menceritakaan apa yang tertulis di dalamnya, membisikkan ajakan-ajakan untuk mengambil dan membawanya pulang untuk kemudian saling bercanda. Ketika buku dibuka, terdapat ilustrasi seperti pada film Harry Potter, dimana gambar bisa berbicara. Interaksi buku dan pemustaka seperti komunikasi makhluk pada filem “PK”. Dimana komunikasi tidak dilakukan secara lisan, akan tetapi dengan saling berpegang tangan, dan masing-masing tau apa yang disampaikan.

Tidak semua impian harus diwujudkan, setidaknya dengan berani bermimpi akan ada semangat untuk bangun dan mewujudkan satu persatu mimpi tersebut. Dengan perpustakaan impian yang pernah dituliskan, setidaknya ada satu dua hal yang dapat ditumbuh dan kembangkan oleh perpustakaan untuk melaksanakan tugasnya memenuhi informasi yang dibutuhkan. 


Kenapa? karena semua butuh alasan, meskipun cinta tak butuh alasan. Bahkan menanam pohon saja juga ada alasan yang mendasarinya. Di Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY tepatnya di Gedung Grhatama Pustaka, terdapat pohon yang sangat unik yang ditanam di bagian tengah gedung. Pohon tersebut bernama pohon pulai atau biasa disebut dengan pohon pule. Pohon yang memiliki nama ilmiah Alstonia scholaris ini tidak hanya ditanam di tengah gedung, akan tetapi juga di depan gedung, disamping gerbang dan beberapa titik lainnya. Jumlah pohon pulai di lingkungan Grhatama Pustaka berjumlah 8 pohon, dengan ukuran yang berbeda. 

Dari sebuah perbincangan singkat bersama Bapak Agus Tirto, salah satu PNS di lingkungan DPAD DIY, pohon pulai ditanam dilingkungan Balai Layanan Perpustakaan memiliki filosofi tersendiri, diantaranya:

1. Batang pohon pulai lurus, memberikan arti hidup yang lurus. Tidak berbelok pada sesuatu hal yang salah. 
2. Setiap dahannya selalu bercabang 4, yang memiliki arti keadilan pada setiap penjuru mata angin. Seperti minaret yang berada di Grhatama Pustaka yang juga berjumlah 4.
3. Memiliki rasa pahit, sehingga pohon tetap bagus tidak didekati dan rusak oleh serangga. Menggambarkan perjalanan kehidupan yang harus ditempuh dengan perjuangan yang berat atau bisa dikatakan 'pahit', agar kehidupan dikemudian menjadi manusia yang berhasil.
4. Memiliki arti bagi pendidikan, bermanfaat bagi sekolah. Seperti sebuah pepatah bahwa "perpustakaan adalah pembelajaran sepanjang hayat". Ditanamnya pohon pulai di Balai Layanan Perpustakaan sebagai simbol bahwa perpustakaan sebagai media penunjang pendidikan dari berbagai lembaga pendidikan. 
5. Memiliki sebutan dalam banyak bahasa.
6. Pohon Pulai menggambarkan sebuah nasionalisme. Nama dari PULAI memiliki keterkaitan dengan lagu Indonesia Raya. Dimana hurup vokal pada pohon pulai yakni U-A-I, sesuai dengan sajak lagu Indonesia Raya stansa 1,2, dan 3. Dimana stansa 1 bersajak U, stansa 2 bersajak A, dan stansa 3 bersajak I.
7. Merobohkan pemikiran masa lalu, dimana pohon pulai dianggap sebagai pohon yang memiliki penunggu. Ditanamnya pohon pulai di salah satu layanan umum untuk merobohkan mindset bahwa pohon adalah pohon yang angker.
8. Menjaga kestabilan lingkungan. Pohon pulai merupakan jenis pohon yang memiliki rongga di dalam batangnya. Sehingga, ketika sedang musim hujan, air dapat mengalir di dalam batang dan disimpang. Pada musim kemarau tiba, pohon pulai tidak akan kekurangan air dan tetap hijau. 
9. Ditanam di tengah gedung memberikan arti 'keseimbangan' bahwa manusia juga berada di tengah pada dirinya. Sehingga menusia tidak perlu 'minder' akan dirinya sendiri. 

Selain pohon pulai, di Grhatama Pustaka juga terdapat beberapa jenis tanaman lain, bahkan pohon kersen atau talok, yang buahnya dapat dinikmati oleh pengunjung perpustakaan. Menanam pohon adalah menanam cinta. Cinta bagi alam dan cinta pada semua makhluk. Jika menanam cinta pada manusia dapat ditolak, pohon tidak akan pernah menolak cintamu. 

Caution!! 'Tulisan ini bukanlah artikel ilmiah, tetapi artikel argumen tentang sedikit pengetahuan admin berkaitan dengan kepustakawanan dan dunia perpustakaan" 

Perpustakaan merupakan tempat mencari sumber informasi, seperti yang telah diketahui oleh masyarakat umum. Terdapat beberapa jenis perpustakaan, salah satunya perpustakaan umum, seperti tempat admin bekerja. ehem. Ya, admin merupakan salah satu staff layanan di Perpustakaan Daerah salah satu provinsi di Indonesia. Tepuk tangan. Kerjaan di perpustakaan umum apa saja mbak? Banyak, karena di bagian Layanan Sirkulasi, admin harus melayani sirkulasi peminjaman-pengembalian, penelusuran, pencarian buku di rak, pencarian jodoh di sela-sela rak kalo ada. Terkadang memberikan referensi buku apa yang sesuai dengan apa yang pemustaka cari, nah, ini yang agak rumit. Staff layanan tidak memiliki ilmu kebatinan yang  nantinya buku yang dicari benar-benar 'plek' sesuai dengan kebutuhan informasi pemustaka.

Pemustaka? ya, gampangnya disebut pengunjung perpustakaan, biasa juga disebut user atau pengguna, bukan pengguna narkoba pastinya. Menurut Undang-undang No.43 Tahun 2007 bisa dicari sendiri definisi dari pemustaka secara lebih detil. Kebutuhan informasi setiap pemustaka berbeda, terlebih di Perpustakaan Umum. Pemustaka di perpustakaan umum mulai dari 0 bulan sampai sekian ratus tahun. Dari siswa, mahasiswa, bapak ibu guru, dosen, juragan tahu bulat, komunitas arisan, ibu-ibu posyandu, bapak-bapak club karambol, juragan empang, juragan teri, pemilik atm banyak tapisaldo 0, sampai juga berbagai kalangan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Saking heterogen-nya pemustaka di perpustakaan umum, terkadang banyak kejadian yang ada aja. Sebagai staff layanan pastinya harus bisa nahan emosi, tapi yang paling susah adalah nahan ketawa atas kelucuan dan keunikan pemustaka yang selalu tak terduga. 

Pemustaka di perpustakaan umum dituntut untuk dapat mencari buku secara mandiri. Lha terus kerjanya staff layanan apa? Kalau ada staffnya kenapa harus mencari buku sendiri, kan bisa minta tolong? nah, ini yang salah.Sebenarnya staff layanan hanyalah 'membantu' pemustaka dalam pencarian informasi. Bayangkan, dalam satu hari pemustaka bisa sampai 300-500 orang dengan staff layanan sekali sift 5 orang, tidak mungkin kan one user one staff, butuh berapa staff jika hal itu terjadi. backsound lagu Opick. Oleh karena itu, agar pemustaka dapat melakukan pencarian secara mandiri, perpustakan umum perlu melaksanakan 'Pendidikan Pemustaka". 

Pelaksanaan Pendidikan Pemustaka (User Education)

Pendidikan pemustaka menurut ODLIS (Online Dictionary of Library and Information Science) didefinisikan sebagai kegiatan yang mencangkup pembelajaran tentang bagaimana pemustaka memanfaatkan koleksi perpustakaan, layanan, dan fasilitas, baik secara formal maupun non-formal cara penyampaian yang dilakukan oleh pustakawan maupun staff perpustakaan , baik secara perorangan maupun dalam sebuah kelompok. Meskipun hubungan kita tidak memiliki tujuan, menurut Lasa-HS, pendidikan pemustaka memiliki beberapa tujuan, yakni:
  • Memanfaatkan jasa informasi yang tersedia
  • Mengoptimalkan sarana dan fasilitas
  • Mencapai terwujudnya masyarakat informasi
  • Ikut berperan dalam proses pendidikan
  • Mengefektifkan dan mengefisiensikan pencarian informasi


Dalam pelaksanaannya, pendidikan pemustaka di perpustakaan secara umum terdapat beberapa tingkatan. Pendidikan pemustaka dilaksanakan dengan beberapa tahap tingkatan, yakni:
1. Library Orientation
     Library orientation merupakan tingkatan pertama dan pendidikan pemustaka, dengan mengenalkan orientasi dasar perpustakaan. Pemustaka akan dikenalkan dengan hal dasar seperti letak ruangan layanan, kamar mandi, kantin, jam layanan, prosedur peminjaman-pengembalian, pendaftaran anggota dan kontak perpustakaan. Di perpustakaan umum, library orientation ini sangat penting, terlebih untuk perpustakaan dengan gedung yang besar, beberapa pemustaka bisa jadi masih bingung dengan letak ruang, pintu masuk-keluar dan beberapa hal mendasar lainnya. 

2. Library Instruction
     Pada tingkat Library Instruction, pemustaka sudah mulai familiar dengan perpustakaan. Pemustaka mulai diajarkan bagaimana melakukan penelusuran informasi secara mandiri dengan buku petunjuk, sistem temu kembali informasi. Di beberapa perpustakaan umum penelusuran informasi sudah tidak lagi menggunakan katalog kartu, tetapi sudah mulai menggunakan OPAC (Online Public Access Catalogue) sehingga, pencarian buku dapat lebih cepat dan lebih mudah.

3. Bibliographic Instruction

     Tingkat Bibliographic Instruction, staff memberikan pendidikan pemustaka dengan intensif, seperti memberikan pengarahan informasi organisasi, tipe referensi untuk dokumentasi, cara pembuatan laporan penelitian dan lain sebagainya. Staff layanan seperti memberikan bimbingan atau pengajaran olah informasi yang telah didapatkan oleh pemustaka. 

Sebenarnya masih ada tingkatan yang lebih tinggi, sampai pada literasi informasi.Akan tetapi, secara umum, tingkatan pendidikan pemustaka sebagaimana 3 tingkatan tersebut. Untuk pelaksanaannya, pendidikan pemustaka dilakukan secara formal maupun non-formal. Berbeda dengan perpustakaan perguruan tinggi maupun di perpustakaan sekolah yang melaksanakan pendidikan pemustaka secara terjadwal, pelaksanaan pendidikan pemustaka di perpustakaan umum dilakukan secara kondisional.

Pendidikan Pemustaka Formal

Pendidikan pemustaka bisa dilakukan secara formal, yakni dengan memberikan panduan pada sekelompok kunjungan. Biasanya dilakukan secara terjadwal, mulai dari pemaparan materi tentang perpustakaan dan juga nantinya pemustaka akan diajak berkeliling perpustakaan atau wisata pustaka. Pemustaka secara langsung akan dikenalkan dengan ruang layanan, fasilitas, cara pencarian buku dan bagaimana cara peminjaman sampai pengembalian. 

Pendidikan Pemustaka Non-Formal

Pendidikan pemustaka secara non formal dapat dilakukan kondisional, baik oleh perorangan maupun kelompok. Pemustaka secara spontan dapat langsung bertanya kepada staff layanan, dan staff layanan akan memberikan pengajaran kepada pemustaka. 

Pelajaran bagi pemustaka yang baru pertama kali menginjakkan kaki di perpustakaan, bertanyalah kepada staff layanan jika baru pertama kali berkunjung dan butuh bantuan. Tidak semua staff layanan belajar koding  dan sandi morse sehingga peka pada setiap tingkah pemustaka, sudah berapa kali pemustaka datang, atau bahkan belum pernah sama sekali. Tanyakan bagaimana cara pencarian buku, bukan mengacak-acak di rak. Tanyakan berapa nomor panggil bukunya, dan staff akan membantu mengarahkan dimana letak buku. Tanyakan berapa nomor hape mbaknya, biar ada notif yang masuk. Bersabarlah apabila sirkulasi sedang padat dan antri ketika meminta bantuan, staff bukan Naruto yang punya jurus seribu bayangan, bukan juga Bandung Bondowoso yang bisa membangun 999 candi dalam waktu semalaman. 

Ketika staff mengeluarkan sedikit nada tinggi, berarti sedang berlatih lagu seriosa, bukan karena emosi. Tanyakan apa saja, yang penting bukan masalah hati. Sekian, kami tunggu kedatangan kalian di perpustakaan . . 
Kunjungi dan jadi tahu dunia 




Foto ketika admin PPL di UiTM, Malaysia
Jurusan kuliahku enggak keren, tapi hidup harus selalu sabar dan syukur.

     Memasuki awal semester kayak gini, mestinya banyak mahasiswa baru yang kemudian bangga dengan kampusnya. Namun, ada juga yang malah g kuliah, bukan karna tidak diterima atau tidak mampu bayar kuliah, tapi karena 'males, gak suka jurusannya'. Pernah ngalamin? Ya, saya mengalaminya, 'enggak suka sama jurusannya', bedanya saya tetap kuliah sampai lulus. Ya kayak semacam cinta yang dipaksa, akhirnya menikah juga. 

     Ceritanya, karena terlalu idealis nilai matematika di bangku sekolah yang hampir tidak pernah jelek, saya pengen jadi guru matematika melalui kuliah pendidikan matematika. SNMPTN saya mendaftar pendidikan matematika di UNY dan di UNS sebagai pilihan kedua. Tapi saya ditolak. Kemudian mendaftar melalui jalur reguler UIN-Suka, tetap pendidikan matematika pada pilihan pertama, dan Ilmu Perpustakaan pada pilihan kedua atas rekomendasi kakak. Dan hasilnya, saya ditolak pendidikan matematika untuk yang ketiga kali. Sedikit mengenaskan, tapi setidaknya saya diterima dipilihan kedua, Ilmu Perpustakaan. 
Suka sama jurusannya? Ya, kampusnya sih Suka Suka aja, karna emang UIN-Suka, tapi awalnya, jurusannya tidak suka. Gimana mau suka, tau aja enggak. Jangankan tetangga pada nanya, saya aja yang mau kuliah bingung 'iki jurusan opo, kuliahe ngopo, kerjane ngono, emange penting??'. Berbekal Ridhallah Ridhalwalidian, akhirnya saya juga lulus walaupun awalnya enggak suka jurusannya. Bapak saya sudah ridho yang penting saya kuliah, ya mau gimna lagi? haha.Karena males jurusannya gak keren, bahkan sampai lulus pun saya kuliah berangkat selalu telat, dan sampainya dikelas tidur. Tapi, sisi keren dari kuliah itu sebenernya kita sendiri yang mencari.

      Selama kuliah saya harus bersabar menerima keadaan. Gimana enggak, saya satu-satunya alumni dari SMA saya yang kuliah di UIN, yang lain kuliah di kampus bergengsi, di UGM, UNY, UNDIP, ITB, IT telkom dsb, dengan jurusan yang keren juga pastinya. Di UIN sebenernya bakal ngerasa keren juga kalo jurusannya ekonomi, biologi, matematika, hukum, dan sejenisnya. Tapi ini, Ilmu Perpustakaan. Ketika temen-temen pada cerita betapa keren mereka kuliah, saya diem aja karna merasa g keren. Sama tetangga juga diomongin, 'anak.e kae kuliah opo.e, SMA.ne neng kono kog neng UNY wae ra ketompo'. Sabarnya harus tebel, sabar dengerin ocehan orang dan sabar jelasin kuliahnya ngapain aja biar g terlalu dihina, haha.

Tapi saya banyak bersyukur kuliah dijurusan Ilmu Perpustakaan. 
-Syukur karena biaya, bayangin aja, kuliah sppnya 600rb persrmester, dan 100rb buat praktikum, total 700rb persemesternya, ini bukan karna apa-apa, tapi emang segitu biayanya, baik anak petani, buruh, pns, konglomerat, juragan empang, pengusaha bakso krikil dan anak pejabat, bayarnya ya sekitar segitu. Di SMA saya dulu 600rb itu cuman spp buat 2 bulan. Kuliah 600rb, jangankan buat bayar wifi fakultas, buat beli pewangi ruangan di kelas aja masih kurang. 
-Syukur, karena mata kuliahnya tidak terlalu membuat pusing, tidak banyak laporan tentunya. Kecuali beberapa mata kuliah terkait informatika yang muter otak harus menguasai koding sampe laptop eror tiba-tiba enggak kuat dual boothing itu udah biasa. Ya mana tahu kan, kuliah perpustakaan bakal install aplikasi koding atau buat SI. Jadi kadang beli laptop sekedar beli enggak mikir spekulasi buat aplikasi berat. 
-Syukur, saya mendapatkan kesempatan bisa praktik lapangan sampe negara orang. Awal kuliah bayangin aja enggak kan. Ilmu Perpustakaan, jurusan yang kalo dibayangin kayak pojokan ruangan, ada lemari dan sawangen, bisa-bisanya ngirim mahasiwa tukang tidur ini ke negara orang.
Tapi saya bisa belajar banyak hal dari Ilmu Perpustakaan, tentang bagaimana ilmu itu ada, bagaimana menjaganya, baagaimana cara mudah mencarinya, berperan dalam literasi informasi dan jadi tahu betapa kerennya perpustakaan, walaupun saya sendiri kadang masih malas baca buku.

      Semua ada hikmahnya, ya memang iya. Ketika apa yang kita tentukan tidak tercapai, Allah lebih tahu mana yang baik untuk kita. 'Ana uriidu, wa anta turiidu, Wallahu ya'lamu maa yuriid'. Allah tahu yang terbaik untuk kita dan tahu kemampuan kita. Jadi, kalian anak-anak maba yang males kuliah karna jurusannya enggak keren, coba jalani aja dulu, jangan langsung putusin aja. Sisi keren dari kuliah itu kita sendiri yang nyari. 


Goodluck buat maba-maba yang ada, jalani aja dulu kuliah kalian . . . 

Mengeluh tipis kadang perlu biar tidak terlalu se-pa-neng. 







photo by Sri Rohyanti


     Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kembali menggelar pameran mata kuliah Informasi Dalam Konteks Sosial (IDKS) pada 26-27 Mei 2015. Dengan dihadiri Dekan Fakultas Adab, Dr. Zam-zam Affandi M.Ag dan juga kunjungan dari PAUD UIN Sunan Kalijag yang turut memeriahkan pameran ini. Dengan gagasan dari Ibu Labibah M.LIS selaku dosen IDKS sendiri, pameran ini selalu menampilkan ide dan kreasi yang berbeda pada setiap tahunnya. Mulai dari panitia penyelenggara dan peserta pameran, tempat pameran, dan tema pameran. Berbeda dengan tahun lalu yang diselenggarakan di depan convention hall UIN Sunan Kalijaga, pameran pada tahun ini diselenggarakan di Gelanggang Teater Eska. Diikuti oleh mahasiswa Ilmu Perpustakaan Angkatan 2013, pameran ini menampilkan tema yang sedang marak pada beberapa tahun berjalan ini. Jika pada tahun lalu mengangkat tema "Cerita Rakyat" yang belum banyak dikenal masyarakat, pada tahun ini mengangkat tema "Dolanan Anak". 
        Pameran yang free dan terbuka untuk umum ini, memilih tema yang sesuai dengan apa yang terjadi pada dunia anak akhir-akhir ini. Dimana anak-anak lebih memilih bermain gadget daripada bermain permainan-permainan tradisional.  Setidaknya ada 8 stand, 7 stand menampilkan permainan tradisional anak, dan 1 stand jurusan yang menampilkan hasil karya dan kegiatan jurusan ilmu perpustakaan. Setiap Stand menampilkan dolanan yang berbeda, ada stand jalangkung, stand jamuran, stand dolanan, stand empringku dolananku, stand dingklik oglak-aglik, stand Kreweng ameng-amengan waras, dan stand dolanan sunda. 
          Selain penampilan stand dolanan yang berbeda-beda, bentuk stand dan kreasi yang ada disetiap stand yang unik dan beragam, membuat pengunjung pameran merasa tertarik dengan pameran ini. Tak hanya dapat melihat apa yang ada di stand, pengunjung juga bisa menikmati dan mencoba permainan yang ada di setiap standnya. Seperti bermain enggrang, bermain gangsing, jamuran dan beberapa dolanan anak lainnya. Tak hanya itu, salah satu stand menyediakan panganan daerah berupa gatot dan tiwul dimana pengunjung juga dapat menikmatinya. 
         Tak hanya pameran, pameran ini juga dimeriahkan dengan kompetisi show and tell, dan juga terdapat talkshow pada tanggal 27, pukul 12.30 yang dinarasumberi oleh sastrawan jawa, Bapak Bambang Nur Singgih S.Sn dan dimoderatori oleh Fuad Wahyu. Talkshow yang membuat audience tercengang dengan tembang yang dilantunkan oleh bapak Bambang, juga mengajak audiensnya memainkan beberapa dolanan anak jawa, seperti dolanan kecik, dan gatheng. Pameran kemudian ditutup dengan pembagian hadiah pada pemenang kompetisi show and tell, dan juara masing-masing stand. Dengan diramaikan stand Empringku dolananku yang menghidupkan dolanan berupa "Long" pada setiap pembacaan juaranya, menambah penutupan pameran ini sangat meriah. 
         Dengan suksesnya pameran literasi dan budaya IDKS pada tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya, diharapkan pada tahun-tahun yang akan datang pameran ini lebih meriah dan mengusung tema yang lebih spektakuler lagi. 

Salam Librarian
Photo by Pustakasiana Zulqudsie
      
          Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga kembali dipadati mahasiswa dan beberapa  tamu undangan dalam acara Muslim’s Show goes to Indonesia. Setelah acara akademisi baca puisi yang diselenggarakan oleh MMPI yang didukung Teater Eska UIN Sunan Kalijaga dan jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga menarik audience dari civitas UIN maupun kampus luar UIN pada Senin 03 Maret lalu, pagi tadi, Rabu 12 Maret 2014 Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga kembali dipadati mahasiswa maupun tamu undangan dari UIN Sunan Kalijaga juga dari luar UIN Sunan Kalijaga. Mizan bekerjasama dengan jurusan Ilmu Perpustakaan S1 UIN Sunan Kalijaga menyelenggaarakan Public Lecture bersama dengan 3 (tiga) komikus muslim yang berasal dari Perancis. Ketiga komikus tersebut ialah Noredine Allam, Greg Blondin dan Karim Allam. Selain ke Yogyakarta, dalam kunjungannya di Indonesia tanggal 6 sampai 16 Maret ini, tiga komikus asal Perancis ini juga berkunjung ke Jakarta dan Bandung. Dalam kunjungannya ini, mereka mengenalkan komik buatan mereka yang berjudul the Muslim’s Shows yang garis besarnya berisi kehidupan umat muslim di Perancis.

          Kegiatan yang berlangsung di Teatrikal Perpustakaan UIN Suka ini dimulai pukul 08.00 WIB dibuka dengan penampilan dari band Papyrus dan grup musik Al-Jami’ah yang memukau pengunjung dengan musik gambusnya yang berirama dan syair ala timur tengah. Tak lama berselang, ketiga komikus berhidung mancung memasuki Teatrikal Perpustakaan dan disambut oleh seluruh audience yang berdiri menyambut kedatangan tamu istimewa ini. Bapak Ahmad Fatah selaku PD III Fakultas Adab dan Ilmu Budaya tak kalah menyambut tamu berkulit putih dengan mengenakan blangkon yang sudah dipersiapkan oleh panitia pada setiap komikus. Acara dibuka dengan doa yang dipimpin oleh mahasiswa Ilmu Perpstakaan semester 4 , Marsono, yang kemudian dilanjutkan dengan acara sambutan oleh Benny Ramdhani selaku Project Officer Muslim Show to Yogyakarta. Public Lecture Muslim ‘s Show ini di buka secara resmi oleh bapak Ahmad Fatah pada pukul 09.00 WIB dengan meniup peluit bambu yang sebelumnya dibagikan oleh panitia kepada seluruh hadirin secara bersamaan.

          Dialih bahasakan oleh bapak Ali – dosen Bahasa Perancis Vokasi Universitas Gadjah Mada, audience terdiam bengong mendengarkan penjelasan Noredine Allam dengan gaya bahasa Perancis yang cepat dan tidak dimengerti sebagian bahkan hampir seluruh hadirin. Noredine dengan gugup mencoba menjelaskan tentang the Muslim’s Show, yang menceritakan kehidupan umat muslim di Perancis. Noredine menuturkan bahwa pembuatan Moslem’s Show ini dimulai sejak tahun 2009. Awalnya, hanya potongan page-page kartun di Facebook saja, dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, akhirnya The Muslim’s Show ini dibukukan dan dialih bahasakan dalam berbagai bahasa. Selain dibukukan, The Muslim’s Show ini juga di filmkan. Ide pembuatan kartun ini sebenarnya hanya dari ide dan pelajaran sederhana tentang permasalahan yang dapat kita temui dalam kehidupan sehari-harinya. Seperti pesan dalam salah satu halaman komiknya bertuliskan “ If they fight me, I respond wisely”.  Dalam pesan komik tersebut ide dari Noredine yang digambar oleh Greg Blondin yang kemudian diwarnai oleh Karim Allam, menggambarkan bahwa ada orang yang tidak suka dengan kita, menantang, mengungkapkan kebenciannya terhadap muslim, tapi si Muslim tersebut malah menawarkan madu, agar tenggorokan si orang tidak suka tadi tidak sakit karena sudah digunakan untuk berteriak-teriak.

          Selain penjelasan dari Noredine, public lecture yang di moderatori oleh Bapak Ainul Yaqin ini juga membuka kesempatan kepada audience untuk menanyakan unek-unek mereka kepada komikus yang duduk di podium. Sembilan penanya menanyakan pandangan mereka tentang kehidupan muslim di Perancis dan beberapa pertanyaan menarik lainnya. Di akhir acara, Greg mencoba mepratekkan bagaimana dia menggambar kartun tokoh komik di hadapan para audience. Ketiga komikus ini juga membuka kesempatan kepada audience yang memiliki buku “the Muslim’s Show”  untuk mengabadikan karikatur mereka dan ditandatangi oleh ketiga Komikus berbadan tinggi ini. Public lecture ini berjalan cukup baik, hanya saja pembicara merasa agak gerah karena kondisi ruangan yang overload oleh audience yang penarasan dengan ketiga komikus ini. Ibu Sri Rohyanti selaku Ketua Program Studi Ilmu Perpustakaan S1 UIN Sunan Kaljaga memberikan komentarnya ketika beberapa mahasiswa bertanya kesan acara ini. Beliau berkata bahwa, acara ini sangat bagus sekali, selain untuk public lecture bahwa komik juga bisa dijadikan bahan pustaka yang berfungsi rekreasi, acara ini memberikan ruang kreativitas mahasiswa Ilmu Perpustakaan sebagai Event Organizer acara ini. Selain itu, beliau juga memaparkan, mengapa acara ini di langsungkan di tatrikal perpustakaan, salah satu alasannya untuk menarik pengunjung agar perpustakaan lebih eksis lagi.




 Menurut pendapat beberapa orang, sebagian besar dari mereka menjawab, pustakawan itu ya  orang yang bekerja di Perpustakaan.
Salah seorang dari mereka ketika Saya tanya : “Setahu kamu, bekerja di perpustakaan itu ngapain aja?” nah, Dia jawab : “Ya nata buku to ya? Mau ngapain lagi kalo gag nata buku?”
Ya, begitu hasil survey kecil saya. Mungkin memang belum banyak orang tahu. Sebagaian besar melihat pustakawan dari apa hasil konkrit yang di kerjakan oleh pustakawan. Dan hasil konkrit yang terlihat oleh para pemustaka ya rak, yang ada buku tertata di dalamnya.
Pertanyaan yang ada benak saya sendiri, bertanya pada diri saya sendiri: “Gimana buku bisa sampai ke rak? Gag mungkin kan, pustakawan tiba-tiba beli buku, disampul, ditaruh rak, selesai. Apa yang terjadi jika pustakawan tersebut menaruh bukunya asal-asalan, perpustakaan bisa kaya pasar kiloan, buku segala subjek campur bawur. Kalian mesti bingung nyari buku yang kalian cari.” Tapi pertanyaan ini saya simpan dibenak saya sendiri, dan saya tuliskan disini.
Ok, menjawab pertanyaan Ibu Labibah pada Mata Kuliah Informasi dalam Konteks Sosial : “Pustakawan itu apa?”
Kalau menurut pendapat saya sendiri, pustakawan itu . . . . profesi multi subjek ilmu.
Karena pengelolaan koleksi, dari mau mengadakan sampai buku itu nanti sudah tidak diperpustakaan lagi mempunyai alur yang panjang. Perlu belajar manajemen untuk merencanakan koleksi yang akan di adakan, Kepada jobber mana buku mau dibeli, ngecek buku/ koleksi sesuai apa tidak. Kalau buku sudah sampai diperpustakaan, subjek bukunya apa? Masuk klasifikasi nomor berapa? Bikin katalog dulu. Kalau perpustakaannya sudah sebagain terotomasi ya bikin barcode dulu, habis itu, buku masih disampul. Nanti kalau penempatan buku di rak, buku nomor sekian itu masuk rak sebelah mana. Belum lagi di perpustakaan yang terotomasi tadi, pustakawannya juga harus bisa TI, mengelola si program-program otomasi.
Sebenarnya tugas pustakawan itu juga gag cuman ngurusin buku. Nanti pustakawan juga harus bisa sebagai pendidik, mendidik para calon dan pengguna perpustakaan dalam menggunakan perpustakaan dan fasilitasnya. Mengenalkan pengguna tentang perpustakaan tersebut. Pustakawan juga bisa kayak “tour guide” ketika perpustakaan kedatangan tamu, baik dari perpustakaan lain, maupun tamu dari luar negeri, harus bisa bahasa asing juga.
Pustakawan juga belajar ilmu psikologi untuk mengetahui kebatinan si pemustaka. Misal pemustaka clingukan kaya orang bingung, pustakwan menghampiri dan bertanya : “mau cari buku apa mas?/mbak?” kalau pustakawan kerja di sekolah dasar, pustakawan bisa seketika menjadi pendesain ruangan. Mengubah ruangan polos menjadi ruangan pelangi. Dan ini ni, pustakawan bisa tiba-tiba menjadi mbah google ketika perpustakaan yang terotomasi Online Public Acces Catalogue (OPAC) nya lagi error atau penuh dipakai orang. Pemustka boleh bertanya, contohnya ketika pemustakanya tanya : “ma’af, buku novel Indonesia Rantau 1 Muara kira-kira sebelah mana ya?” pustakawan jawab : “lantai empat, sebelah barat, rak nomor 800, nomor panggil 813 FUA r.”
Tetapi, untuk menjadi “profesi multi subjek ilmu” kita sebagai pustakawan yang normalnya belajar 8 semester atau 4 tahun ini harus belajar di Ilmu Perpustakaan ini dengan sungguh-sungguh. Kalau kita belajar gag sungguh-sungguh sama aja kita dengan pustakawan jeblosan training 2 hari. Ibarat orang naik pohon gag bisa turun. Kita sama-sama bisa otomasi, tapi ketika programnya error, belum tentu kita semua bisa perbaiki. Perlu belajar untuk itu. Belajar, belajar, dan doa.
Salam librarian,
“I’m Librarian. Yes, I can do the best”
(IDKS kelas C)
Anik Nur Azizah


Older Posts Home

ABOUT AUTHOR

My photo
Anik Nur Azizah

Anik Nur Azizah
Ekamas 48
Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga
View my complete profile

Follow us

Facebook  Twitter  Instagram 

POPULAR POSTS

  • Tak Perlu Basa Basi untuk Nongkrong di Kafe Basabasi
    Terlalu banyak basa basi sampai dia jadi milik orang itu sudah biasa terjadi. Pergi ke Kafe Basabasi untuk menepi, menyepi, sendiri dan ...
  • Menikmati Sore di Kopi Kampung Ambarukmo (KoKamBar) : nonton kereta dan pesawat lewat
    Baca juga : Kopi Kali Petung Melepas penat setelah pulang kerja atau kuliah terkadang perlu dilakukan oleh sebagian orang. Banyak...
  • Review Pengiriman Barang Via Wahana Prestasi Logistik
          Awalnya berkirim surat maupun barang bisa dilakukan melalui kantor pos. Namun kemudian, semua berubah ketika negara api menyerang. No...
  • Alasan Pohon Pulai Ditanam Di Gedung Perpustakaan
    Kenapa? karena semua butuh alasan, meskipun cinta tak butuh alasan. Bahkan menanam pohon saja juga ada alasan yang mendasarinya. Di Balai ...
  • Upacara Adat Cing-Cing Goling, Kisah Pelarian Kerabat Majapahit
    photo by: radarjogja "Cing-cing Goling", berasal dari menyingsingkan atau dalam bahasa Jawa "Cincing", dan "Go...
  • Kopi Panggang yang tidak dipanggang, dilengkapi Tiwul khas Gunungkidul
    Nah loh, gimana coba kopi Panggang tapi tidak dipanggang. Ya walaupun pembuatan kopi memang disangrai juga. haha Panggang yang dimaks...
  • Pameran Literasi dan Budaya #idks 2015
    photo by Sri Rohyanti      Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kembali menggelar ...
  • Wajah Baru Kokambar
    Photo by Dimas Catur      Saking menariknya KoKamBar (Kopi Kampung Ambarukmo), admin mereview sampai ketiga kalinya. Ekhem, dapet payun...
  • Islam Cinta di Kafe BasaBasi Sorowajan bersama Habib Husen Ja'far Hadar
    photo from twitter @arcotransept Malam Minggu admin kali ini 7/9/2019 sedikit berfaedah dengan nongkrong di Kafe Basabasi. Yang biasany...
  • Mojok di PW Coffeeshop with Kongdjie
         Biasanya admin suka ngopi sendiri di tempat ngopi yang besar dengan harga standar, seperti warkop di daerah Sorowajan. Kenapa? karen...

Categories

  • Bucin Time
  • Cerita
  • IDKS
  • Librarian Corner
  • Warung Kopi
  • Wisata

Blog Archive

  • ▼  2020 (7)
    • ▼  October (2)
      • Mampir Kopi n Susu Kembang Sawah
      • Review Pengiriman via JNE, Alhamdulillah Selalu Am...
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2019 (22)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (4)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2014 (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (2)
  • ►  2009 (1)
    • ►  March (1)

Total Pageviews

>

About Me


Anik Nur Azizah
Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia
ziezzhakky@gmail.com

Popular Posts

  • Tak Perlu Basa Basi untuk Nongkrong di Kafe Basabasi
    Terlalu banyak basa basi sampai dia jadi milik orang itu sudah biasa terjadi. Pergi ke Kafe Basabasi untuk menepi, menyepi, sendiri dan ...
  • Menikmati Sore di Kopi Kampung Ambarukmo (KoKamBar) : nonton kereta dan pesawat lewat
    Baca juga : Kopi Kali Petung Melepas penat setelah pulang kerja atau kuliah terkadang perlu dilakukan oleh sebagian orang. Banyak...
  • Review Pengiriman Barang Via Wahana Prestasi Logistik
          Awalnya berkirim surat maupun barang bisa dilakukan melalui kantor pos. Namun kemudian, semua berubah ketika negara api menyerang. No...

Copyright © 2019 Pustakaku.

Created by Anik Nur Azizah

Theme By Anik Nur Azizah