Pustakaku

Jalani, Tapi Jangan Sendiri

Copyright Anik Nur Azizah. Powered by Blogger.
  • Beranda
  • Cerita
  • Wisata
  • Warung Kopi
  • Librarian Corner
  • Bucin Time
     Corona yang muncul pertama kali di kota Wuhan, China pada Desember 2019 belum berakhir hingga saat ini, April 2020. Mulai dari dikatakan sebagai wabah, dan saat ini corona ditetapkan sebagai pandemi. Meskipun di China virus ini sudah dapat ditangani dan keadaan berangsur membaik, namun corona atau COVID 19 kemudian mulai berkelana keseluruh dunia. Bahkan, di beberapa negara, corona semakin menjadi-jadi, seperti kejamnya ibu tiri pada FTV. Di Indonesia, penyebaran virus corona yang begitu cepat mengakibatkan banyak masyarakat yang tertular virus ini. Dari 8.000an kasus positif corona, 700 diantaranya dinyatakan meninggal dunia. Belum ditemukan secara pasti vaksin yang tepat untuk mengatasi virus penyebab corona. Sehingga masyarakat dihimbau untuk menjaga kesehatan, menjaga kebersihan dan mentaati himbauan pemerintah agar tidak bertambah kasus positif corona di Indonesia. 

     Salah satu cara agar terhindar dari virus corona yakni dengan menerapkan hidup sehat dan mematuhi himbauan pemerintah. Beberapa diantaranya menghindari kerumunan, rajin mencuci tangan dengan sabun, hanya bepergian dalam keadaan mendesak, membawa handsanitizer ketika bepergian, menggunakan masker dan dilarang berduaan, karena yang ketiga adalah setan. Jika memang terpaksa harus pulang dari daerah yang banyak kasus positif corona di daerah tersebut, masyarakat harus sadar untuk melakukan isolasi mandiri, atau karantina secara mandiri selama 14 hari di rumah masing-masing. Apabila dirasakan gejala terkena virus corona selama masa karantina, segeralah datang ke rumah sakit rujukan COVID19 dan berikan data yang jujur seperti riwayat penyakit, dan riwayat perjalanan kepada petugas medis.

     Selain karantina karena bepergian atau pulang dari daerah yang terdampak virus corona, untuk memutus rantai penyebaran virus corona, masyarakat dihimbau untuk di rumah saja sampai keadaan mulai membaik. Dengan hanya di rumah dan mengurangi bepergian, kita dapat membantu tim medis untuk meringankan pekerjaan mereka dengan tidak menambah pasien mereka. Kapan lagi kita dapat menyelamatkan dunia hanya dengan rebahan saja? Bagi kaum rebahan, inilah saatnya kalian  bermanfaat.

Nescafe dengan gula

MENGISI WAKTU REBAHAN DENGAN DALGONA

     Terlalu lama rebahan dapat menyebabkan rasa malas meningkat beberapa tingkat, malas mandi, malas makan, bahkan untuk bernapas saja membutuhkan tutorial. Salah satu kegiatan positif yang dapat dilakukan untuk mengisi waktu rebahan yang sangat padat yakni dengan mencoba membuat dalgona coffee tanpa mixer. Yang pengen tau sejarah dalgona, baca aja di wikipedia, capek nulisnya Meskipun terkesan hanya mengikuti tren, membuat dalgona coffee tanpa mixer ternyata memiliki beberapa manfaat, diantaranya:
Melatih kesabaran. Membuat dalgona tanpa mixer memerlukan waktu sedikit lebih lama dibanding dengan mixer, sehingga diperlukan kesabaran untuk melakukannya. 
Melatih kekuatan otot tangan. Mengaduk kopi agar tercipta dalgona yang sempurna tidak dapat dikatakan hal yang sepele karena kekuatan otot tangan diuji. Melakukan adukan secara konsisten selama beberapa menit dapat membantu meningkatkan kekuatan otot pada tangan.
Membakar kalori. Belum ada penelitian secara pasti berapa kalori yang terbakar karena membuat dalgona coffee. Yang pasti, dalam proses pembuatan dalgona dapat membakar kalori. Mulai dari proses beranjak dari rebahan, ke warung berjalan membeli sesachet coffee, mengambil sendok, mangkuk, membuat susu di gelas, mengaduk kopi sampai jadi dalgona, gelut dengan saudara yang menginginkan dalgona kita sejak awal. Proses tersebut dapat membakar beberapa kalori dalam tubuh.
Lebih menghargai waktu. Membuat dalgona cofee tanpa mixer memerlukan waktu pengadukan 5 sampai 20 menit tergantung pada alat apa yang digunakan. Setelah dalgona tersebut jadi, menghabiskan segelas susu dengan topping dalgona hanya memerlukan waktu satu atau dua menit. Tidak sebanding dengan lama waktu pembuatan dalgona. Pada akhirnya, kemudian akan menyadari betapa yang telah dilakukan adalah hal yang sia-sia, dan tidak akan mengulanginya kembali. 

TIPS MEMBUAT DALGONA YANG BAIK DAN BENAR

     Membuat dalgona tanpa mixer merupakan kegiatan unfaedah akan tetapi merupakan sebuah kebanggan tersendiri bagi mereka yang berhasil. Bagi yang gagal, jangan bunuh diri karena gagal mengaduk kopi. Bisa sebenarnya susu langsung dicampur kopi dan langsung diminum, rasanya hampir sama. Hanya saja memang, prinsip manusia pada umumnya "kalo bisa ribet, kenapa harus dibuat gampang". Berikut cara membuat dalgona tanpa mixer yang baik dan benar, dilengkapi dengan tips menarik yang tidak penting sama sekali. 
1. Persiapkan semua bahan. Kopi nescafe classic (bukan endorse, paling gampang pake ini), gula jika mampu, mangkuk, sendok plastik, dan air.
2. Tuangkan satu bungkus nescafe classic ke dalam mangkuk, tambahkan satu sendok teh air bening suhu sedang. 
3. Tambahkan gula semampunya, jika tidak mampu beli gula, bercerminlah.
4. Aduk menggunakan sendok plastik. Kenapa harus sendok plastik? biar tidak berisik.
5. Aduk hingga dia mencintai kita. Saking lamanya bisa jadi sampai dia diembat orang.
6. Normalnya, lama mengaduk 5 sampai 20 menit sampai menempel di sendok dan tidak jatuh apabila dibalik.
7. Persiapkan susu ke dalam gelas, boleh susu apa saja. Susu kambing etawa juga boleh.
8. Tuangkan kopi yang sudah berbentuk foam ke dalam gelas yang sudah berisi susu.

     Perlu diperhatikan bahwa, ada perbedaan antara nescafe yang digulai dan tidak digulai. Nescafe yang diaduk dengan gula akan mengembang lebih lama, tetapi lebih padat, masa ngambang di susu juga lebih lama dan tidak menyatu. Sedangkan nescafe yang diaduk tanpa gula akan mengembang lebih cepat, hasil lebih banyak, akan tetapi akan cepat menyatu dengan susu, mungkin rindu.
Adonan dalgona dengan gula

 
Adonan dalgona tanpa gula




     Seperti gambar di atas, terlihat perbedaan antara nescafe yang tidak dicampur dengan gula dan yang dicampur dengan gula. Karena yang tidak terlihat adalah rasa cintaku kepadamu. Untuk hasil yang sudah dituang ke dalam gelas, juga terlihat perbedaaannya. Gambar yang di atas merupakan perpaduan nescafe dengan gula. Sedangan gambar yang di bawah merupakan nescafe tanpa gula. Rasanya hampir sama, hanya sikapmu saja yang lain. 

ALTERNATIF SELAIN KOPI

     Beberapa orang yang mungkin memiliki masalah dengan kopi, diharapkan segera diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Jangan sampai menimbulkan perpecahan. Bagi yang memiliki tingkat kesabaran yang rendah, disarankan untuk membeli mixer. Ada beberapa alternatif lain yang dapat dijadikan dalgona selain kopi, diantaranya :
1. Matcha
2. Milktea
3. Milo

     Dengan takaran yang sama, bisa jadi pembuatan dalgona versi next level ini akan memakan waktu yang berbeda dalam pembuatannya. Apabila gagal, disarankan untuk kembali pada kasta minuman tertinggi, yakni es teh dan diharapkan untuk tidak mencoba membuat dalgona kembali. 

     Pada akhirnya, sayangi waktumu seperti kamu menyayangi isi dompetmu. Rebahanlah untuk membantu keadaaan di tengah pandemi corona agar segera baik-baik saja. Tetapi, jangan lupa beranjaklah untuk mewujudkan salah satu mimpimu. Update status dengan pencapain yang telah kamu lakukan di tengah pandemi ini. Updatelah,meski hanya dengan satu gambar.





     Dari berbagai postingan yang pernah ditulis, postingan ini merupakan yang paling tidak bermutu. Karena hanya berisi curahan kebucinan "gue" sebagai penulis. Sebagai manusia patah hati yang cintanya belum kesampaian, diperlukan media yang tepat untuk apresiasi diri atas patah hati yang dialami. Karena memang benar, siapapun presidennya, kadang "We Fall in Love with People We can't Have". Yang salah siapa? tetep pemerintah lagi ujungnya, karena tidak membuat undang-undang rindu, belum ada sop untuk menuntut hak perasaan kepada orang lain. sehingga banyak perasaan-perasaan yang terabaikan. 

     Bu-Cin . . . Budak cinta, kadang juga budak micin. Entah mengapa, makanan ekstra micin level kenikmatannya naik beberapa grade. Urusan micin bikin gubluk urusan belakangan, yang penting bisa nyari cuan buat beli micin. Karena micin adalah jalan hidupku. 

     Beberapa quote bucin yang ditulis dalam postingan ini berasal dari twitter admin, insidental ketika tiba-tiba nemu kata bucin, percakapan dengan anak kos dan kejadian lainnya. Kadang, bikin status bucin bukan karena galau, tapi karena, BAGUS AJA DIBIKIN STATUS, PAHAM GA?! Jika sudah pernah ada sebelumnya, ya mungkin admin sehati dengan orang-orang yang pernah mengutarakannya. Berikut beberapa quote bucin, yang mungkin bisa dijadikan acuan untuk diunkapkan, tapi sebisa mungkin, jangan dilakukan.

"Masalah setiap hari cuman masalah perasaan"

"Jangankan milih jodoh, milih antara es teh dan es jeruk pas makan mie ayam aja aku bingung"

Anak Kos ; Mbak, sepertinya kita perlu menanam sawi di kos
Akuh  : Iya, setelah itu kita menanamkan benih-benih cinta pada dia yang sepertinya mencintai kita

"Listrik Boleh Padam, Cintamu Jangan"

"Aku padamu, bagaikan nogosari raono gedhane"

"Yen uripmu kakean pencitraan, jajal ganti niv_a atau vas_lin_"

"Hujan masih air, aku sudah milik yang lain, tetapi aku masih mencintaimu"

Anak kos; Mbak, kog jarang main, di kosan mulu?
Akuh : Aku sedang meminimalisir menjalin komunikasi dengan manusia-manusia yang berkontribusi dalam permasalahan sakit hati ini

"Terkadang, terlalu "GILA" mengejar cinta seorang manusia, kamu lupa bahwa ada Tuhan, dan banyak manusia lain yang begitu mencintaimu"


*Quote ini bisa sewaktu-waktu bertambah

Demi apa nulis ginian? Demikian, banyak kurang dan lebihnya mohon maaf. Terima kasih



Kantong kering?
Pikiran pecah-pecah?
Belum gajian tapi pengen dolan?
Anda tidak perlu khawatir, karena admin juga merasa demikian. Anda tidak sendiri. Banyak orang merasakan hal yang Anda alami, hanya saja jutaan orang seperti mereka tidak menyadari. Solusinya mudah, dolanlah, bahkan ketika tidak punya uang sama sekali. Hanya saja, harus tetap sadar diri. Carilah tempat dolan yang sekiranya tidak membuat kantong kering, tapi tetap bisa membuat Anda hepi ending. 

     Dimanapun Anda berada, tetaplah bersyukur dengan tempat tinggal Anda. Tinggal di kota, dapat jalan-jalan di Mall, cukup bayar parkir 2ribu rupiah dan dapat berkeliling Mall sepuasnya, dengan catatan tidak belanja sama sekali. Apabila tinggal di desa Anda harus semakin bersyukur, karena tidak ada Mall, sehingga tidak perlu mengeluarkan 2ribu untuk parkir. Tapi, Anda juga tidak perlu khawatir, karena di desa ada sawah, gunung, lembah dan sungai yang mengalir indah sampai ke samudera.

     Berbicara tentang dolan keluar rumah dengan harga yang murah, Yogyakarta memiliki banyak destinasi wisata baru, bahkan lama yang cukup terjangkau untuk dikunjungi pada tanggal tua. Salah satunya yakni Grojogan Watu Purbo, di kali Krasak yang menjadi batas Sleman dan Magelang. Tepatnya di Bangunrejo, Merdikorejo, Tempel, Sleman, Yogyakarta. Grojogan Watu Purbo termasuk destinasi wisata baru, tapi sebenarnya sudah lama ada. Seperti perasaanku ke kamu, yang baru tersampaikan, padahal sudah lama ada. 

     Grojogan Watu Purbo memang sudah dibangun sejak lama, hanya saja, baru kemudian dibersihkan dan dikelola oleh warga setempat dan banyak dikunjungi oleh wisatawan. Seperti sungai pada umumnya, air di Kali Krasak ini mengalir sampai jauh, yang membedakan adalah grojogan yang memiliki beberapa tingkatan. Tingkatannya tidak berdasarkan kasta, tetapi memang dari tinggi ke rendah sesuai aliran air. Apaan sih mbak. 

     Akses jalan menuju Grojogan Watu Purbo cukup mudah, selama masih ada kuota untuk akses google maps. Meskipun jalan masuk ke lokasi Watu Purbo sedikit tidak meyakinkan karena jalannya masih bebatuan. Kanan kirinya masih sawah, tempatnya masih asri dan kamu tetap memilih pergi. Mobil dan motor dapat dengan mudah melewatinya, hanya saja jalanan licin ketika musim hujan. walaupun hujannya sudah, tanahnya masih basah, dan tanahnya becek. Seperti hubungan kita, hubungannya usai, tapi kenangannya masih menjuntai, adanya hanya halu.

     Sesampainya di Grojogan Watu Purbo, Anda dapat menuruni tangga, melewati pepohonan yang asri. Anda juga dapat jebur ke sungai karena tidak begitu dalam, hanya saja bebatuan yang sedikit licin membuat Anda harus tetap berhati-hati. Ada tangga menuju setiap tingkatan grojogan, airnya dangkal sehingga Anda dapat 'keceh' di Kali Krasak ini. Pastikan cuaca cerah, jika hujan kenangan tiba, dikhawatirkan air akan besar, sehingga tidka dapat keceh. Datanglah pada pagi atau sore hari agar tidak terlalu panas. Keceh di siang hari dapat membuat Anda gagal glowing. 


     Bagi Anda yang tidak suka keceh, dapat menunggu di bantaran sungai, sembari menggelar tikar dan ghibah berjamaah. Ada beberapa pedagang yang juga dapat membantu Anda memberantas kelaparan dengan se cup p*p mie dan seplastik es teh. Tidak ada penyewaan tikar, sehingga Anda dapat 'ndlosor' atau nangkring di bebatuan apabila ingin duduk menikmati indahnya pemandangan kali dan manusia yang menggagalkan ke glowingan mereka sendiri. Jika Anda beruntung, pengelola akan memutarkan musik dangdut yang dapat Anda nikmati dan lantunkan bersama suara-suara sumbang pengunjung yang ikut bernyanyi. Ada warni-warni bunga kertas yang bagus untuk berfoto, namun jangan dipetik dan dibawa pulang, nanti sayang. 

     Belum ada biaya retribusi untuk masuk di Grojogan Watu Purbo. Hanya dikenakan biaya parkir sepeda Rp2000,-, motor Rp5000,- dan mobil Rp10.000,-. Bawalah salah satu saja, sepeda, atau motor, jangan membawa sepeda motor. Selain akan kerepotan membawanya, Anda juga harus membayar sepeda dan motor. 

     Ada beberapa kantong sampah yang disediakan pengelola. Tetap jaga kebersihan, jaga hati, jaga perasaan. Jangan sampai diambil orang. 

Aku suka padamu itu urusanku
Urusan kamu suka atau tidak padaku, itu urusanmu
Kita hanya berbeda urusan
Semesta kemudian menertawakan

Mungkin aku yang terlalu lugu
Menerima kode yang lebih rumit dari sandi morse
Atau aku yang terlalu halu
Menerjemahkan caramu memperlakukanku sebagai sebuah kamuflase

Hati menertawakan imajinasi
Waktu menertawakan janji
Janji yang tak lebih dari imajinasi
Memang, perasaan yang ironi

Bahkan, kesempatan ikut campur
Menempatan kita dalam satu kereta
Tapi dalam gerbong yang berbeda
Memaksakan pikiran ini lembur tak bisa tidur

Melayang pada becek tanah alun-alun
Hujannya sudah, tapi tanahnya masih basah
Beriringan sama-sama melangkah
Diam, tanpa kata yang terpendam hanya sepatah
Bahkan sampai selesai kau bonceng dan turun

Semuanya baik-baik saja
Kemudian menjadi tidak baik-baik saja
Aku yang bagaimana
Atau, kamu yang bagaimana?
Aku bertanya apa
Dan kamu menjawab apa

Aku dan kamu, ya, kita
Baik-baik saja
Hanya saja, urusan kita berbeda
     Biasanya admin suka ngopi sendiri di tempat ngopi yang besar dengan harga standar, seperti warkop di daerah Sorowajan. Kenapa? karena mau ngopi di tempat yang bagus takut mahal. Anak kos dengan gaji UMK Jogja harus bisa memanage gaji dengan baik. Apalagi cewek kan, belanja sabun sebulan bisa buat makan angkringan 2 minggu. belum lagi gincu, bedak, sunscreen, ele liner, eye shadow, maskara, sendal, sepatu, jarit, kebawa, rok, celana, baju pagi, baju siang, baju sore, baju tidur, baju kerja. Belum juga nurutin gengsinya. haha

     Kali ini lain, admin mencoba ngopi di salah satu coffeeshop, yakni PW Coffeeshop with KongDjie. Nama KongDjie adalah Ho Kong Djie seorang keturunan China di Pulau Belitung yang mendirikan kedai kopi sejak 1943 di Belitung. Dulunya Kedai kopi Kong Djie hanya salah satu kedai kopi kecil dari sekian banyak kedai kopi di Belitung. Belitung sendiri dikenal sebagai kota 1001 kopi. Dari mulai kedai kecil, Kedai KongDjie kemudian berkembang sampai di berbagai kota di Indonesia, termasuk di Jogja ada beberapa Coffeeshop KongDjie, salah satunya PW Coffeeshop with KongDjie. 

     PW Coffeeshop with KongDjie terletak di pojokan Lippo Mall, tepatnya di belakang Masjid Ash-Shidqie belakang Lippo. Jadi, di belakang Lippo Mall Jogja ada masjid Ash-Shidqie, di belakang masjid ada gang, di pojokan ada jalan ada coffeeshop, nah, disitu letaknya. Benar-benar di pojokan ya, PW Coffeeshop ini cukup kecil, nyempil dipojokan jalan. Bentuk bangunannya bukan seperti coffeeshop yang biasa admin kunjungi, bentuknya memang seperti kedai, di sebuah rumah. Tempatnya sangat nyaman, pelayanannya sangat ramah dan santai. 

     Hanya ada beberapa tempat duduk di bagian luar, mungkin 6 meja atau 7 meja. Di dalam juga ada soffa dan ber AC. tempatnya sangat bersih. Baik di luar maupun di dalam ruangan suasananya sangat tenang, hanya saja apabila di luar ruangan teganggu dengan satu dua motor yang lewat karena memang di tepi jalan. Pagarnya rindang oleh beberapa tanaman, sehingga menjadikan udara segar. Bagi anda yang ingin suasana segar di tengah perkotaan Jogja yang mulai padat, bisa mampir ke PW coffeeshop with KongDjie.

Menu PW Coffeeshop KongDjie

     Menu paling khas coffee shop ini tentu saja kopi, dengan beberapa olahan yang kopinya di roasting sendiri, bukan kopi abal-abal tentunya. Beberapa diantaranya:

kopi Hitam
Kopi Susu
Kopi Susu Panco
Cappucino
Americano
Espresso
Coffee Latte
dll

Ada beberapa menu cemilan juga seperti pisang panggang, singkong goreng dan ada juga menu gelato yang bisa untuk menemani bersantai.

     PW Coffeeshop juga menyediakan makanan yang sangat khas yakni mie siram. Mie siram sendiri merupakan mie yang disiram dengan kuah udang, dengan irisan mentimun dan topping emping melinjo. Dihidangkan dalam keadaan panas dengan rasa yang segar. apalagi dalam suasana hujan gerimis, lebih nikmat tentunya. Berapa harga mie siram? murah sekali tentunya, hanya 10 ribu saja gaeeeess...
     Jika anda anti kopi-kopi club, PW Coffeeshop with KongDjie juga menyediakan beberapa jenis minuman lain, seperti Teh-O atau seperti teh pada umumnya, teh susu, coklat susu, matca, dan matca latte. Untuk harga jangan khawatir, walaupun admin awalnya khawatir mahal, karena rasanya juga enak dan tempatnya seperti coffeeshop mahal memang. Untuk harga teh O hanya 3 ribu, harga minuman kopi dan teh lainnya hanya berkisar 5-12 ribu rupiah saja. Yang paling mahal adalah matcha latte dengan harga 12 ribu saja. 

     Jika Anda sudah lelah berkeliling Lippo atau sekitarnya, bisa Anda sempatkan untuk mlipir di PW Coffeeshop with KongDjie di pojokan Lippo. Tapi jangan terlalu pagi, dan jangan terlalu malam. Karena, kedai kopi ini hanya buka dari jam 15.00-20.00 WIB. Jadi, pulanglah sebelum dicari orangtua. Jangan lupa makan, sampai jumpa di akhir pekan.
     Dimana Turi? bukan di hatinya, tetapi di kaki gunung merapi. Sebuah kecamatan yang terkenal dengan salak pondohnya, dengan cuaca yang selalu dingin seperti sikap dia. Sebuah kecamatan dengan saluran irigasi yang airnya selalu mengalir tanpa takut kering. Diantara dinginnya Turi, diantara sela-sela pohon salak di kanan kiri jalan aspalnya, terdapat beberapa tempat nongkrong asyik di Turi. Turi-Turi Coffee salah satunya.


     Turi-turi Coffe, merupakan salah satu tempat nongkrong yang terletak di Kecamatan Turi. -ya jelas dong mbak- Beberapa orang mengaki kesasar datang di Turi-turi Coffee, padahal sebenarnya tempatnya cukup mudah ditemukan. Jika pengunjung dari arah jalan Palagan, dari perempatan pasar Turi ke kanan, naik ke arah Girikerto. sekitar 100m terdapat penunjuk arah di krii jalan, ikuti saja petunjuk arahnya, sampai di kiri jalan terdapat embung. Berbelok ke arah embung dengan mengitari 1/2 lingkar embung, dan akan sampailah Anda di Turi-turi Coffee. Dengan sebuah keadaan, ngopi, menghadap embung, melihat pemandangan gunung Merapi jika langit cerah. Jika Merapi sedang malu, hanya melihat pemandangan kanan kiri salak, di depan ada embung dan gumpalan mendung. 

     Jangankan ngopi sambil bercerita haha-hihi, di tempat dingin seperti di Turi-turi Coffee, makan Ind*mie menjadi 3 tingkat lebih nikmat, apalagi menyeripit kopi hangat, atau teh hangat, dengan bakmi jawa yang kemebul. Hanya saja, syahdunya perpaduan antara bercerita dan suasananya membuat admin lupa tidak mengabadikan beberapa makanan dan minuman yang di pesan. Makanan datang langsung sikat. Beberapa waktu lalu datang di siang yang cukup terik, sehingga tidak terlalu dingin, dan setelah kondangan sehingga masih kenyang. Memesan es lemon dan lumpia, dan ternyata maknyus. Memang makanan dan cemilan di Turi-turi Cofee cukup enak, teramasuk pisang gorengnya. 

Harga Makanan Dan Minuman


Harga standar kafe. Terdapat beberapa jenis olahan kopi, seperti machiato, latte, greentea latte dan beberapa lainnya dengan harga 20-25 k
Harga minuman yang lain juga menyesuaikan, seperti es teh, es jeruk, lemon squash, dari 3-20k
Harga cemilan standar, seperti dibeberapa tempat nongkrong lainnya 10k
Harga makanan berat seperti bakmi, nasi goreng sekitar 25k bonus es teh
Ada beberapa jenis arabica dan robusta dari beberapa daerah, tapi harganya kurang tau.

    Datang di siang hari, dan Anda dapat memilih tempat. Mulai jam 3-an tempat ini cukup ramai. Bahkan, semakin sore semakin ramai. Ada 3 pilihan tempat yang disediakan:
Di bagian depan cafe
-Di bagian depan memang kursi dan mejanya egois, tidak disusun melingkar, hanya dapat ditempati kelompok kecil atau berdua. menghadap ke embung, dan syukur-syukur merapi bila kelihatan.

Di bagian dalam
-Ada tempat memesan orderan disini. Ada banyak kursi dan meja untuk partai besar. bisa beramai-ramai dan pastinya tidak takut kehujanan. Tempatnya remang-remang tapi cukup terang untuk mengenali wajah teman Anda. 

Di bagian tengah
-Ada sedikit taman kecil, hanya bisa digunakan untuk ngobrol berdua saja. dan kursi panjang yang lumayan untuk ndlosor. Serta dari sini dapat melihat pohon salak di bagian kanan kiri kafe. terkadang juga sedikit ditanami padi. 


       Di bagian belakang sebenarnya juga terdapat tempat prasmanan. Ada beberapa masakan jawa dan rasanya kurang begitu tahu, karena belum pernah mencoba. Kapan-kapan lagi mungkin. -jika ada yang menemani. Di patok harga 25k, tetapi All you can Eat, bisa ambil semua sayurnya, haha. 

Sembari kulakan salak, bisa mungkin mampir kesini. 


Kuliner, sebuah kebutuhan, gengsi, atau sekadar menjadi sebuah rekreasi dari kepentingan rasa. Entah rasa yang pernah ada maupun rasa yang tertinggal. Makan adalah sebuah kebutuhan untuk menyambung hidup, sedangkan kulineran merupakan kebutuhan, ajang gengsi untuk sekadar "aku pernah mencicipinya", atau menjadikan sebuah ketergantungan memanjakan lidah, "enak nih, pengen kesana lagi". 

Di Jogja, ada beragam kuliner menarik, unik, tapi tidak membuat kantong panik. Ratusan, bahkan jutaan jenis makanan mungkin dapat ditemukan di Jogja, dengan harga yang biasa aja, terjangkau, bahkan "ah, murah". Tidak hanya sekadar untuk "aku pernah makan disana", tapi juga mengajak "disana enak, ayuk kesana lagi". Bukan tentang dia, tapi tentang rasa, dan harga tentunya. Rasa enak, harga bersahabat, itulah yang membuat banyak kuliner di Jogja tetap ramai dan eksis.


Salah satu kuliner yang "mungkin" lumayan terkenal adalah Ayam Cha Do Jo. Menjadi menu favorit di RM. Pesona Sabin. Sebuah rumah makan yang lokasinya dekat dengan Ambarukmo Plaza, tapi cukup membuat google maps migrain. Di belakang Ambarukmo Plaza ada gapura gang, lurus, mentok naik ke kiri. Atau jika lewat Nologaten, depan bakso Klenger Ratu Sari ada jalan paving perumahan, mentok, lurus naik, ambil kiri. Rumah makannya memang sangat "jepit", tapi ramainya luar binasa. Kalau sudah lewat magrib, kudu sabar pokoknya antri disini, dari pesan sampai makan bisa 2 jam. Disambi main uno bisa 3 puteran. 

RM Pesona Sabin ini menyediakan beberapa menu, seperti nasi goreng, capcay, bakmi, kwetiau, cha udang dan menu favoritnya adalah Ayam Cha Do Jo. Ayam Cha Do Jo merupakan sebuah glondongan potongan ayam yang dibalut tepung, disiram dengan kuah capcay saos merah, ada tahunya, sayurnya, jamurnya, krupuknya, dan ada perhatiannya. haha. Satu porsinya kenyang dimakan sendiri, beberapa manusia dengan perut super masih kuat nambah seporsi nasi. Menu ini memang favorit, ada ayam, ada tepung, di piringnya berendam kuah merah, panas, muda,beda dan berbahaya. 

Harganya tidak perlu khawatir mahal, seporsi ayam cha, dan es teh hanya Rp. 16.000,-. Tambah nasi hanya Rp. 2.000,-, sabarnya yang berjuta-juta menanti makanan datang. Selain Ayam Cha Do Jo, kwetiaunya juga enak, capcaynya juga. Kadang pas mau makan mikir, beli capcay ah, atau beli kwetiau, pas sampai disana seperti ada bisikan "Ayam Cha aja". Akhirnya pesan ayam cha lagi, ayam cha lagi. Harga semua menu sama, yakni Rp.14.000,-. Hanya harga diri dan kesetiaan yang mahal.

Bagi kamu, kamu, dan kamu yang belum pernah mencoba, boleh nih coba-coba. Kadang, awalnya memang coba-coba, lama-lama bisa ketagihan. 
Newer Posts Older Posts Home

ABOUT AUTHOR

My photo
Anik Nur Azizah

Anik Nur Azizah
Ekamas 48
Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga
View my complete profile

Follow us

Facebook  Twitter  Instagram 

POPULAR POSTS

  • Tak Perlu Basa Basi untuk Nongkrong di Kafe Basabasi
    Terlalu banyak basa basi sampai dia jadi milik orang itu sudah biasa terjadi. Pergi ke Kafe Basabasi untuk menepi, menyepi, sendiri dan ...
  • Menikmati Sore di Kopi Kampung Ambarukmo (KoKamBar) : nonton kereta dan pesawat lewat
    Baca juga : Kopi Kali Petung Melepas penat setelah pulang kerja atau kuliah terkadang perlu dilakukan oleh sebagian orang. Banyak...
  • Review Pengiriman Barang Via Wahana Prestasi Logistik
          Awalnya berkirim surat maupun barang bisa dilakukan melalui kantor pos. Namun kemudian, semua berubah ketika negara api menyerang. No...
  • Upacara Adat Cing-Cing Goling, Kisah Pelarian Kerabat Majapahit
    photo by: radarjogja "Cing-cing Goling", berasal dari menyingsingkan atau dalam bahasa Jawa "Cincing", dan "Go...
  • Alasan Pohon Pulai Ditanam Di Gedung Perpustakaan
    Kenapa? karena semua butuh alasan, meskipun cinta tak butuh alasan. Bahkan menanam pohon saja juga ada alasan yang mendasarinya. Di Balai ...
  • Kopi Panggang yang tidak dipanggang, dilengkapi Tiwul khas Gunungkidul
    Nah loh, gimana coba kopi Panggang tapi tidak dipanggang. Ya walaupun pembuatan kopi memang disangrai juga. haha Panggang yang dimaks...
  • Pameran Literasi dan Budaya #idks 2015
    photo by Sri Rohyanti      Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kembali menggelar ...
  • Wajah Baru Kokambar
    Photo by Dimas Catur      Saking menariknya KoKamBar (Kopi Kampung Ambarukmo), admin mereview sampai ketiga kalinya. Ekhem, dapet payun...
  • Islam Cinta di Kafe BasaBasi Sorowajan bersama Habib Husen Ja'far Hadar
    photo from twitter @arcotransept Malam Minggu admin kali ini 7/9/2019 sedikit berfaedah dengan nongkrong di Kafe Basabasi. Yang biasany...
  • Pendidikan Pemustaka (User Education) di Perpustakaan Umum Itu Perlu
    Caution!! ' Tulisan ini bukanlah artikel ilmiah, tetapi artikel argumen tentang sedikit pengetahuan admin berkaitan dengan kepustakawan...

Categories

  • Bucin Time
  • Cerita
  • IDKS
  • Librarian Corner
  • Warung Kopi
  • Wisata

Blog Archive

  • ▼  2020 (7)
    • ▼  October (2)
      • Mampir Kopi n Susu Kembang Sawah
      • Review Pengiriman via JNE, Alhamdulillah Selalu Am...
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2019 (22)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (4)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2014 (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (2)
  • ►  2009 (1)
    • ►  March (1)

Total Pageviews

>

About Me


Anik Nur Azizah
Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia
ziezzhakky@gmail.com

Popular Posts

  • Tak Perlu Basa Basi untuk Nongkrong di Kafe Basabasi
    Terlalu banyak basa basi sampai dia jadi milik orang itu sudah biasa terjadi. Pergi ke Kafe Basabasi untuk menepi, menyepi, sendiri dan ...
  • Menikmati Sore di Kopi Kampung Ambarukmo (KoKamBar) : nonton kereta dan pesawat lewat
    Baca juga : Kopi Kali Petung Melepas penat setelah pulang kerja atau kuliah terkadang perlu dilakukan oleh sebagian orang. Banyak...
  • Review Pengiriman Barang Via Wahana Prestasi Logistik
          Awalnya berkirim surat maupun barang bisa dilakukan melalui kantor pos. Namun kemudian, semua berubah ketika negara api menyerang. No...

Copyright © 2019 Pustakaku.

Created by Anik Nur Azizah

Theme By Anik Nur Azizah